Sampai kantor. Sepi. Sendiri.
Aku nggak ngerti energi apa yang menggerakkanku untuk tetap berangkat, sama halnya aku ngga ngerti juga energi dan niatan apa yang bikin kemarin sore aku tetep mau ngisi adik-adik, jadwal ganti ahad lalu. padahal badanku masih lemas. aku juga ngga ngerti sakit jenis apa ini yang walau demamku sudah turun, badanku masih aja lemes. masih kadang-kadang dingin gitu. masih kadang-kadang keringetan. batukku juga masih saja keras. dan yang aku heran, aku masih makan walau ukurannya memang berkurang, tapi badanku juga masih aja lemas.
aku menebak-nebak. buat bersosialisasi? biar kerjaan beres? buat mendapatkan energi dari sekeliling? biar bisa pulang cepet? biar proyekan yang menganggap hari libur masuk ini amanahnya lekas usai? biar hutang-hutang tentang targetan penjualan lunas? entahlah. hanya saja di jalan aku belajar ngebalikin lagi, niatnya, bismillahnya, dan lain sebagainya.
sejak sakit, aku malas sekali merespon pesan-pesan di hp. kecuali yang memang aku tunggu-tunggu balasannya. aku nampaknya selalu saja beralasan pengen bales dengan niat. pengen bales pas buka laptop karena mau ngetik panjang, dan lain sebagainya.
tapi aku paham itu hanya alasan.
maaf ya teman-teman.
sebagaimana juga banyak yang ingin aku tuangkan di laman ini. bahkan termasuk hal-hal yang aku pikirkan mungkin dari tahun lalu, hahaha. tapi ya gitu, masih alasan.
bismillah, semoga hari ini punya stok yang cukup untuk konsentrasi dan menunaikan amanah dengan baik. dear tubuh, kita bersahabat, ya :)
Kamis, 18 April 2019
Rabu, 17 April 2019
Kuat, Yakin, dan Percaya
.
banyak banget kejadian orang tua yang jadi kuat karena melihat anaknya berjuang menghadapi kondisi spesianya ketika lahir, atau ketika sakit. seperti ketika aku dulu lihat kisah adam fabumi, lihat kisah illonaillonalona (total udah 40 operasi sampai usia 4 tahun bayangin :"", dan waktuu lihat ayahnya nangis, dia masih bisa bilang, don't be sad daddy, be strong like me).
orang dewasa selalu rasional ya. mungkin pengalaman hidup membuatnya demikian. tidak melulu salah, namun kadang bisa mematahkan semangat, kadang bisa mematikan harapan. ah, padahal dibandingkan anak-anak, orang dewasa yang justru lebih paham soal menggantungkan segalanya ke Allah. harusnya malu ya :"
coba lihat harapan dalam bola mata anak-anak yang selalu jujur itu :")
harapan yang yakin bisa. harapan yang optimis. harapan yang yakin bakal nyampe sama apa yang dicita-citakan. pertanyaannya, jika harapan mereka mati, jangan-jangan, orang dewasa atau justru kitalah yang membuatnya demikian, naudzubillahimindzaliik.
kalau tadi lihat lagi edisi filmnya ada kutipan kata-kata begini, "umma akan selalu percaya kalau nussa...bisa"
lagi-lagi tentang percaya, ya :")
Semalam kebangun jam dua, agak menyesal ketiduran dan kemungkinan melewatkan waktu yang mungkin menjadi tuan rumah untuk mengobrol bersama orang-orang rumah.
Lalu kepikiran suatu hal, meski ngga terlalu berkaitan sama paragraf sebelumnya
Kenapa ya manusia suka merasa kehilangan atas apa-apa yang tidak dimiliknya.....
Lalu kepikiran suatu hal, meski ngga terlalu berkaitan sama paragraf sebelumnya
Kenapa ya manusia suka merasa kehilangan atas apa-apa yang tidak dimiliknya.....
Selasa, 16 April 2019
Sakit.
Waktu sakit rasanya hanya bisa tiduran. Grundel-grundel ga jelas di kasur. Bolak-balik kanan kiri. Dibawa dzikir, ketiduran, kebangun lagi, nanti tidur lagi. Banyak tidur sampe badan rasanya pegal-pegal. Kepikir, kalau sakit, nggak banyak yang bisa dilakukan ya. Tapi ya emang kondisi sakit itu begini. Bakan ada pada satu titik di mana aku takut minta sembuh sama Allah, takut kalau ini adalah cara Allah gugurin dosaku.
Lemes maksain kerja.
Setelah dijalani, eh ternyata lemes ya, padahal kemarin sudah lebih baik dan kupikir hari ini akan lebih baik lagi dari kemarin. Dan ternyata, harus siap sama komplain. Harus siap sama pihak yang tidak mengerti kalau aku ga di satu tim doang. Harus siap di-feedback orang. Harus siap sama orang yang gak paham aku ngerjain dokumen. Harus siap sama perasaan senggol bacok yang rasanya, ya Allah andai dirimu tahu aku sudah melakukannya kemarin tapi aku tahu susah laporan karena ingin memastikan langsung. Harus siap sama menyesuaikan kenyamanan kerja orang lain. Harus siap sama perasaan, itu baru sejam yang lalu diassign ke aku, waktu aku lagi shift di tempat lain, kenapa kayaknya aku salah banget huhu. Harus siap sama moodswing dan perubahan-perubahan hormon yang tak disangka.
Bersabar, bersyukur.
Banyak ujian hidup yang lebih berat dari ini Fitri. Semangat :)
Waktu sakit rasanya hanya bisa tiduran. Grundel-grundel ga jelas di kasur. Bolak-balik kanan kiri. Dibawa dzikir, ketiduran, kebangun lagi, nanti tidur lagi. Banyak tidur sampe badan rasanya pegal-pegal. Kepikir, kalau sakit, nggak banyak yang bisa dilakukan ya. Tapi ya emang kondisi sakit itu begini. Bakan ada pada satu titik di mana aku takut minta sembuh sama Allah, takut kalau ini adalah cara Allah gugurin dosaku.
Lemes maksain kerja.
Setelah dijalani, eh ternyata lemes ya, padahal kemarin sudah lebih baik dan kupikir hari ini akan lebih baik lagi dari kemarin. Dan ternyata, harus siap sama komplain. Harus siap sama pihak yang tidak mengerti kalau aku ga di satu tim doang. Harus siap di-feedback orang. Harus siap sama orang yang gak paham aku ngerjain dokumen. Harus siap sama perasaan senggol bacok yang rasanya, ya Allah andai dirimu tahu aku sudah melakukannya kemarin tapi aku tahu susah laporan karena ingin memastikan langsung. Harus siap sama menyesuaikan kenyamanan kerja orang lain. Harus siap sama perasaan, itu baru sejam yang lalu diassign ke aku, waktu aku lagi shift di tempat lain, kenapa kayaknya aku salah banget huhu. Harus siap sama moodswing dan perubahan-perubahan hormon yang tak disangka.
Bersabar, bersyukur.
Banyak ujian hidup yang lebih berat dari ini Fitri. Semangat :)
Senin, 15 April 2019
Kenapa Mau Menikah?
Waktu itu Abi sama Fahri ngobrolin suatu profesi yang intinya profesi mereka tuh bisa dikejar, keluarganya bisa terancam. Aku nggak denger profesiya apa. Tapi waktu aku yang dengernya dari atas, waktu turun tangga, aku nanya.
"Kalau tahu profesinya bsia mengancam orang-orang di sekelilingnya, kenapa dia mau menikah Bi? Kan malah jadi mengancam kehidupan orang lain. Hidupnya gak tenang...."
"Lalu Abi bilang, karena ada sesuatu yang lebih besar yang dikejar sama dia dengan menikah."
Waw. Bisa gitu ya.
Saya selalu penasaran makanya sama orang yang ingin menikah. Pertanyaan sejak lamaaa sekali. Kenapa sih seseorang (atau mungkin kamu) mau menikah?
"Kalau tahu profesinya bsia mengancam orang-orang di sekelilingnya, kenapa dia mau menikah Bi? Kan malah jadi mengancam kehidupan orang lain. Hidupnya gak tenang...."
"Lalu Abi bilang, karena ada sesuatu yang lebih besar yang dikejar sama dia dengan menikah."
Waw. Bisa gitu ya.
Saya selalu penasaran makanya sama orang yang ingin menikah. Pertanyaan sejak lamaaa sekali. Kenapa sih seseorang (atau mungkin kamu) mau menikah?
Langganan:
Postingan (Atom)