Tentang Menerima

Rabu, 02 Maret 2016

di tengah koneksi yang kian tidak stabil, alih-alih membuka referensi jurnal untuk daftar pustaka, koneksi menghubungkan saya lebih cepat dengan tumblrnya Kak Azhar. Lama juga nih ngga buka tumblrnya Kak Azhar btw. Tulisannya tentang saling mengenal sebelum pernikahan. Biasa aja sih awalnya mah. Eh terus saya tertegun dibagian paragraf akhir.

Kadang-kadang kita suka terkejut gitu kan yah sama hal yang kita udah tau.

Kutipan itu berbunyi begini :
Daripada kita habiskan waktu bertahun-tahun untuk saling mengenal, padahal itu tidak menjamin apa-apa kecuali peluang untuk melakukan dosa, lebih baik kita membangun kesiapan untuk menerima. Sehingga siapa pun yang kelak menjadi teman kita dalam membina rumah tangga, apakah kita sudah begitu mengenalnya atau baru sekadar tahu nama, ia akan bahagia karena kesediaan kita menerima ketidaksempurnaanya. Bahwa di dalam diri kita ada jiwa yang begitu lapang, yang siap menampung berbagai cerita, mimpi, amarah, keluh, kesah, luka dan air mata. 

Saya jadi inget, dalam suatu perjalanan, saya pernah nanya ke Abi.
"Bi, titik apa yang membuat seseorang merasa siap menikah?"

Terus Abi jawab, "Saat dia sudah bisa menerima kelebihan dan kekurangan orang lain."

At that time, saya merasa biasa aja. Palingan cuma ngebatin, ooh kalo versi Abi orang siap menikah itu saat dia sudah bisa menerima kelebihan dan kekurangan orang lain. Udah. Selesai. Titi. Gitu aja. Nggak pake pemaknaan dan pendalaman apapun pas itu mah.

Tapi malam ini, waktu saya baca tumblr Kak Azhar, saya jadi semacam ngeh. Bahwa kesiapan menerima adalah suatu kesiapan yang besar. Yaelah, jangankan sama seseorang yang akan mengisi sisa usia kita, bahkan sama temen maen aja kadang ngga sependapat, kadang tengkar, kadang main aja kita cocok-cocokan *ngaku deh plis-_-. Barangkali kita, atau baiklah, saya, belum punya hati seluas samudera untuk menerima seluruh orang yang pernah saya kenal di kehidupan saya.

Maka, menerima menjadi suatu akta kerja yang begitu hebat kali ini kedengarannya. Karena dalam tulisannya juga, beliau menyebutkan bahwa pernikahan selalu memaksa sifat buruk kita keluar satu per satu, membongkar aib-aib yang telah lama kita simpan, sehingga pelan-pelan kita sadar kita tak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan.

Terusnya, saya jadi kepikir juga kata Ummi.
Liburan kemarin, dalam suatu obrolan soal menikah, terjadilah percakapan soal persiaapan sebelum menikah.
"Menikah itu perlu perisapan. Kalau soal masak, nyuci, beres-beres rumah, itu mah gampang Mbak belajarnya. Belajar mengalahkan ego, menerima orang lain, itu yang benar-benar harus dipersiapkan. Karena nggak semudah itu lho mengalahkan ego." yah kira-kira begitulah kata Ummi, walaupun redaksinya mungkin berubah, hehe.

Hohoho, ternyata belajar menerima seseorang itu sesuatu banget yah :")

#udahgituaja #cumasharing #bukanpengenikahsekarang

6 komentar:

  1. Balasan
    1. koe ki yo komene mesti sing koyo ngene tok

      Hapus
  2. ahhiii, ambu-ambune postingan fitri akhir-akhir ini emang... :P

    BalasHapus
  3. Undoubtedly true, fit, haha :) menerima, dan, hngg,rela berkorban si mungkin(atau rela berkorban termasuk menerima ya?haha). Fitri pokoknya kabarkabariiiinnnn:p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Izzaaaah apa kabar? kangen deh :")
      jdi bener gitu ya Zah rasanya *jawab dong sebagai orang yang udah pengalaman #eh, hehe

      sehat-sehat ya bumil :3

      Hapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS