Kamis, 15 November 2012

Gycen yang Hangat :)

Kumpul kembali menghangatkan diri. Ya, Gycen yang hangat, ketika kami kumpul bersama.

Jadi, kemarin kami kumpul MASJIDIL HARAM alias masak, ngaji, doa, i-nya apa, asmaul husna *terus lupa bla-bla-bla akhirnya awal Muharram. Mohon maaf buat umar karena saya lupa kepanjangannya. Saya sedih banget dateng telat. Padahal udah niat jauh-jauh hari bakalan dateng pas jam 2-an gara-gara kuliah cuman sampe zuhur hari Rabu itu. Tapi karena *ehm, ada suatu kejadian yang mengharuskan saya melakukan sesuatu sampai jam 5-an, ditambah berita kumpul yang plis bangeeeet ~~ saya baru tahu jam 10-an kalo ada kumpul jam 5, maka alhasil saya baru ke kontrakan anak2 habis maghrib.

 Gatau jalan ke mana abis pertigaan, akhirnya sampe juga.
Dan...asmaul husna bareng2nya udah lewat, huhu T^T

ya udah, jadi sampe sana ga lama kemudian makan malem. Pipeh lagi ga enak badan. Wuih, keren banget emang si Umar, kontrakan mereka pake di dekor berasa acara muharraman dimanaaa gitu. (maaf ini bukan paragraf yg padu dikarenakan terlalu memuat banyak kalimat inti).

Makan, sedikit kata-kata dari Umar tentang nilai-nilai IC yang harusny akami hidupkan terus mesko bukan di IC lagi. Cerita-cerita Dilho tentang Jamaah Mahasiswa Muslim Ekonomi. Datengnya Fina sama Gordon (sendiri2 kok ga barengan), datengnya Untsa. Jas hujannya Fina yang dengan polosnya Ngeni kira rukuh (mukena).

Game ! Wah yang ini seru banget. Jadi gamenya itu orang pertama ngasih kata yang terdiri dari lima huruf. HARUS lima huruf. Nah, terus kita ngiter dan tiap anak harus nyebutin kata yang berasal dari kata sebelumnya tapi diganti satu huruf aja. Misalnya = MASAK terus PASAK terus PASAR terus PASIR terus KASIR terus KASAR pokoknya gituuuu terus sampe satu yang menang ga tereleminasi. Waah, ini gregetan banget deh mainnya. Dari kloter pertama Umar juara satunya. Dan saya...runner up *bangga banget -,- hehehe. Terus yang seru kloter kedua. Itu sampe akhirnya bukan orang lagi yang versus. Tapi kubu. Kubunya Novi sama Amel. Lucunya Ngeni yang duduknya di kubu Amel malah bela Kubu Novi. Haha, dia pasti dendam juga tuh gara-gara dari tadi putaran prtama dia langsung dieleminasi, hehehe. Tapi Ngeni sangat membantu saya dalam menjawab pas giliran saya. Seru banget deh pokoknya. Kloter kedua dimulai dari kata SETAN. Kata Gordon, coba IBLIS, pasti langsung udahan, hahaha :D. Seru banget, tapi ujung2nya g ada yang menang gara-gara ada yang udah mau pulang.*yaaah

Selanjutnya kita...BIKIN RESOLUSI.
15 resolusi Gycen Jogja buat setahun kedepan.

15 Resolusi, semoga terlaksana.. Termasuk bisa kumpul 2 bulan satu kali.
 "Pas kapan nih kita kumpulnya? Tiap kapan?" *pertanyaan pas diskusi
"Pas Gordon dikirimin uang aja."
"wedeeeh-,-"

 Sayang banget saya lupa copy foto dari Umar pas main game Gycen. Ohya terus kita skype-an juga sama Daus :"). Dausnya sempet terharu gitu juga. Terus kan waktu video call dia dapet telpon ya, keliatanlah bahwa hp yg dia pake itu iPhone dan seketika kita semua langsung berkya-kya. Tapi bukan kya-kya kayak orang norak ato gimana gitu. Kita langsung saling tanya dan ngomong, "Wedeeeh Apple. Jadi ini kita lagi ngomong sama siapa nih *berasa ga kenal sama barang gitu hehehe :P. " Kita puji-puji juga kamar dia yang terlihat nyaman.
Liat tuh, Dausnya :")


Terusnya kita foto bareng. Sayang banget nih gara-gara fotonya akhiran. Fadli ga ikut gara2 ada pengajian. Terus Fina sama Isti juga udah pulang. Abid juga nggak ikut. Tapi karena akhiran Nabil yang baru dateng jadi bisa ikut. Terus Daus juga ikut dari Jepang sana.
 Hahaa, jadi inget. Di kontrakan mereka ada warung kecil2an gitu. Udah macem bazaar di asrama waktu dulu deh. Dan saya...jadi korban beli Kiko harga seribu... Terus Ngeni jadi pengen. Dia beli, eh ternyata punya dia masih cair meski dari freezer. Punya saya udah beku sih tadi, ya meski belum beku-beku banget, hehe. Dimarahi  lagi deh sama Ngeni-,- hahaha :D

Acara berakhir jam....nyaris jam sepuluh lah pokoknya. Dan agenda saya adalah nginep di kontrakan anak cewek. Cerita berlanjut setelahnya yaa :")


*nb : siang tadi sebelum zuhur, saya belajar Matematika Diskrit. Dan nggak tau gimana, kebetulan materi siang itu nyebutin GCD terus, hehe. Inget kalian Gycentium Credas Disorator :"). *ups, tapi yang ini mah Greatest Common Divisor alias Faktor Persekutuan Terbesar, hehe :D




Minggu, 11 November 2012

Becak itu Ia Kayuhnya Pelan-Pelan

Becak itu ia kayuhnya pelan-pelan
sepelan hatinya, menjalani kehidupan
sepelan hatinya, bersabar atas segala keputusan Tuhan
atas jalan hidupnya
yang seolah-olah itu-itu saja
begitu-begitu saja
bergantung pada kayuhan sepeda
setiap pagi, dilepas istri
menyalami takzim dan melepas dengan doa

usianya berbilang enam puluh tiga
guratan muka yang makin menua
belum berat penumpang di depannya
aih, pagi ini dua orang renta
hendak pesiar atau sekedar ke pasar?
entahlah, bukan urusannya

sejak dulu, tiga puluh tahun lalu tampaknya
becak ini telah setia
menemani setiap hari
kala ramai maupun sepi
di jalan-jalan kota
dulu, kawannya banyaaak sekali
tak terhitung jumlahnya
entah apa bisa dikatakan mengalahkan kendaraan bermotor
yang kini ramai dipakai orang
kawan sesama penarik becak juga banyak
sungguh tak terhitung rasa-rasanya
tapi kini, ia terlindas motor pribadi
kota ini kota pelajar, kawan, mereka ingin pesiar sendiri sekali-sekali
tanpa bergantung sana-sini
belum lagi usia senja para penarik becak
hei! rasa-rasanya, penarik becak sejak dulu ya dia-dia saja
tak bertambah angkatan barunya
maka jangan salahkan muka yang menua
gurat keriput yang memilukan
gigi ompong salam senyum matur nuwunnya
kesampatan mungkin berbeda dulu dan kini
biarpun tak ada kerjaan, apa mau berpeluh mengayuh?
biarkan diri topang beban yang kadang terasa tak tahu diri
tapi, biar hanya sisa, hanya ini yang bisa kami lakukan
menyambung kehidupan


Becak itu ia kayuhnya pelan-pelan
sepelan hatinya, menjalani kehidupan
sepelan hatinya, bersabar atas segala keputusan Tuhan
sepelan itu, sebatas kekuatan perlahan, yang sungguh terdegradasi dari kekuatannya dulu
oleh waktu

*di Jogja, mungkin becak udah nggak sebanyak dulu zaman saya kecil. Penariknya sungguh telah renta. Pilu, dan memprihatinkan. Ironis kadang. Kalau bisa, rasa-rasanya kini putra-putrinya yang gantian menopang hidup ayah-bundanya. Biarlah mereka habiskan masa tuanya di rumah. Melakukan hal lain yang tak seberat mengayuh becak-becak itu. Mengurus tanaman depan rumah, saling bercengkrama hangat, sesekali pelesir ke suatu tempat bersama, merajut, membaca koran ditemani teh hangat, bermain riang bersama cucu. Biarlah, biarlah. Tapi kadang, hidup tak seideal yang selalu diinginkan. Ada saja alasan untuk tidak. Anak yang nasibnya tak lebih baik (lebih arah lagi, sudah besar tetap saja masih bergantung pada ayah bunda), atau bernasib lebih baik tapi malah lupa daratan, lupa dulu siapa yang membesarkan. Atau salah-salah, tua renta itu malah tak punya keturunan, tak ada keluarga, bahkan negara pun lupa--ada orang yang seharusnya ia pelihara (seperti kata-kata dalam pasal 34 itu).

-catatan Minggu pagi, pada jalanan yang sepi, ketika melihat seorang tua mengayuh becaknya, dengan pelan-pelan, dengan perlahan.

Jumat, 09 November 2012

Saya Anak Pertama, Saya Seorang Kakak

Jadi gini lho Fit, kakakku itu kayaknya mikirnya gini, Aku itu anak pertama, harus jadi anak yang kuat. Kalo kakaknya nggak kuat, gimana nanti adik-adiknya..."

Aku terdiam, mencerna, memikirkan,...terenyuh.

***

Jadi tadi itu matkul Konsep Fisika, dan dosennya nggak dateng. singkat cerita, aku jadi ngobrol sama temen. Sebut aja dia Indah.

Sama seperti dulu-dulu. Percakapan saya dan Indah mayoritas tentang itu-itu saja. Bukan, bukan berarti kami berteman hanya masalah itu. Namun, hal itu selalu menarik untuk kami bicarakan.

Dua kakak Indah, satu di Jepang, satu di Belanda. Dua-duanya lulus Cum Laude. Yang pertama 3,5 tahun dengan IPK 3,96 dan yang kedua normal 4 tahun dengan IPK 3,5sekian (saya lupa digit terakhirnya). Dari keduanya, saya sungguh bisa mengambil pelajaran.

Yang pertama orangnya rajin tiada henti. Kata-kata yang aku suka waktu saya bercakap-cakap dengan Indah tentang kaka pertamanya adalah : Semua orang juga di titik start seperti kita, siapa yang lari lebih dulu dan kencang, dia yang bisa menyeesaikan step ini. Lulus cepat, jadi dosen muda, S2 beasiswa dalam negeri (dibiayai pemerintah luar negeri) dan saat ini S3 di Jepang sana. Nilainya dulu semester satu A semua. Kumulatifnya dengan menjadi IPK tertinggi kedua se-universitas hanya karena 3 nilai B pada mata kuliah pilihan yang sebenarnya bisa saja ia hilangkan untuk transkrip nilai kumulatif kuliah. Bukan mata kuliah wajib. Tapi ia memilih untuk tidak.

Tak pernah hendak menunjukkan kelemahan di keluarganya. Seperti kata-kata pertama saya di atas. Ia tak ingin keluarganya mencemaskan, sekaligus melihatnya jatuh. Apalagi adik-adiknya. Mereka harus bisa terus semangat. Dan...ia anak pertama. Sungguh ia berpikir bahwa ia harus kuat. Selalu kuat. Subhanallah, luar biasa. Post-doctoral nanti ia ingin ke Eropa. Mimpinya sejak dulu yang masih saja belum terkabul sampai detik ini. Baiklah Kakak, semoga berhasil ya :") !

Yang kedua orangnya terlihaaat sekali jiwa spiritualnya yang kuat. Ehm, kita tidak bisa menilai mana yang lebih baik spiritualnya di antara keduanya, kata Indah. Tapi yang kedua ini benar-benar terlihat. Bagaimana tawakkalnya, kekuatannya untuk memasrahkan diri pada Allah setelah usaha telah ia lakukan. Bagaimana rasa menerima, pasrah, dan ketergantungan pada Allah benar-benar terlihat dalam dirinya. Dua kali ia mencoba apply beasiswa. Yang kedua diterima. Dengan TOEFL yang sungguh membuatnya tak PD, juga wawancara yang kalah oleh rasa nervous. Dengan segala kegalauan itu. Dari semua pengapply, hanya dua yang diterima. Ia salah satunya. Dan kini, ia di Belanda.

Saya juga suka cerita teman saya ini tentang bgaimana kedua kakaknya menyemangatinya, dan sungguh menjadi dua kakak yang baik bgi teman saya. Keduanya berbeda dalam sikap memang. Tapi saling melengkapi. Suatu ketika teman saya ini merasa down karena nilai yang ia rasa harusnya baik tapi ternyata buruk hasilnya. Curhatlah ia pada kedua kakaknya. Ada jawaban unik yang berbeda dari masing-masing kakaknya.

Yang pertama (mungkin karena orang informatika yang terbiasa dengan algoritma) memberi beberapa langkah tentang bagaimana ia harus menyelesaikan masalah tersebut (benar-benar dalam nomor 1,2, dst lho). Tentang bagaimana ia harus cek jawaban dulu, konfirmasi ke dosen, dst, dst. Pokoknya yang realistis dan logis sesuai logika seharusnya (dasar anak informatika, hehe :P. Tapi ya...emang bener juga kok :))

Yang kedua memberi saran untuk selalu pasrah. Kalau memang itu hasilnya, maka kita harus senantiasa menerima. Semuanya mungkin memang takdir. Nggak ada yang bisa jamin takdir itu kayak gimana ke kita, kan? Tugas kitalah berusaha semaaaaaaksimal mungkin tetap berperilaku dan bertindak sesuai tanggung jawab kita semestinya. Kita mahasiswa, maka tugas kita apa. Kita hamba Allah, maka tugas kita apa. Kita seorang anak, maka tugas kita apa. Begitu seterusnya. Melakukan yang terbaik yang kita mampu.

Dan keduanya, saya rasa, sungguh memberi masukan yang saling melengkapi.

***

Saya seorang kakak. Anak pertama dari empat bersaudara. Dan sejujurnya dari dulu ingin sekali punya kakak (udah deh fit ga usah ngarep gabakal bisa lah mau gimana juga *kecuali kakak ipar, itu masih mungkin, hehehe :P). Dan saya mengerti saya anak pertama. Anak pertama itu, harus bisa jadi contoh yang baik buat adik-adiknya. Lebih bersikap dewasa, dan bisa mengayomi. Lebih berani bertindak, mandiri, menjadi tempat yang baik untuk diminta saran, menjadi seseorang yang bisa dimintai tolong.
Yah, itu pemikiran sesaat saya barusan.

Saya anak pertama, saya seorang kakak.

Harus bisa jadi kakak yang baik. Memberi nasihat, memberi semangat, mengingatkan kalau adiknya keluar jalur sedikiiit aja (apalagi kalau banyak, naudzubillah). Dan untuk itu semua, maka saya pun harus terus memperbaiki diri). Bisa jadi teladan yang baik, bisa jadi contoh, bisa jadi anak yang membanggakan bagi kedua orang tua saya.

Saya anak pertama, saya seorang kakak. Bismillah, semoga semua itu bisa saya lakukan, ya. Aamiin. Dan begitu juga dengan kalian :")












Rabu, 07 November 2012

Matematika Diskrit Hari Ini

Kita sering ngomong : gak kepikiran, jadi gak bisa jawab.
Padahal, kepikiran itu bakal datang sejalan sama seringnya kita latihan

Baiklah, aku awali postingan itu dengan dua kalimat di atas itu tadi. Dua kalimat yang terpikir tiba-tiba pas jalan abis dari kelas U2.01, abis mata kuliah matdis (Matematika Diskrit) terakhir bahas soal sama Pak Sri Mulyana, mau ke mushala buat shalat zuhur.

Hari ini hasil UTS Matdis dibagiin di kelas Ilkom A. Selamat buat yang tertinggi 85. Dan 90 kalo di kelas B. Hmm, berapapun hasilku, itu pasti setara sama apa yang aku mampu dengan kadar belajarku yang segitu. Oke, masih harus banyak banget latihan. Kayaknya emang adaptasi sama sistem kuliah yang nggak menuntut aku buat latihan-latihan-dan latihan kayak Bu Sofi yang sekali ngasih tugas langsung ngomong, "Kerjakan latihan 1,2,3,4,5!" atau Pak Darno yang ngasih responsi berlayout daramanis80.blogspot.com, atau kayak jamannya Bu Rita ngasih latihan soal peluang yang difotokopi dari Buku Schaum *padahal kita masih 2 SMA... 

Ya, belajarku, latihanku, jauh dari itu semua... Hasilnya, jadi jauh dari apa yang diharepin pada umumnya. Bapaknya juga bilang hasilnya rata-rata baru mencapai 50%. That's disappoint, right? Udah nggak berlaku lagi kalimat temenku dulu : "Kalo muridnya banyak yang remedial (istilah dulu jaman sekolah), berarti gurunya yang salah.Bukan muridnya." See the facts now : Ini kuliah. Semua menuntut kemandirian. Nggak ada lagi jaman ada guru yang care sama kita nanyain udah paham belom. Ya,,,boro-boro itu. Eksplor diri buat ngerjain latihan aja harus depend on yourself. Mahasiswa sekarang, beda sama dulu. Dan dengan bodohnya, aku kemarin masih sempet aja nyante-nyante-,-. Jangan tiru saya, ya :')!

Ini saya iseng moto pembahasan soal UTS Matdis nomer 4. Soal yang paling banyak salah pas kita -para mahasiswa- ngerjainnya. Silakan dilihat, dipahami, kalo mau. Inilah soal matematika diskrit. Ngurusin hurup, bukan angka *seengganya sampe sekarang. Logika, logika, logika. Di soal ini pemahaman saya sama soal udah salah. Poinnya 30 bro~~ *Jadi soalnya ada empat : Pembuktian logika (yang isinya p, q, p, q, konjungsi, disjungsi, negasi doang)--> nilai 25, Pembuktian dengan metode pembuktian--> poin 20, Induksi Matematika-->poin 25, sama nomer 4 ini :



Soal induksinya juga mantep-,-. Udah gak jaman lagi soal induksi kaya pas masih di IC dulu. Padahal dulu diajarin sama Pak Darno dua kali, pas kelas X sama kelas XII. Tapi ternyata sama aja, ya. That's not give me any inspirations--". Soalnya bukan pembuktian pake tanda sama dengan. Tapi pake tanda lebih dari sama kurang dari (ada 3a sama 3b). Dan aku baru tau kalo soal induksi boleh pindah ruas *dulu perasaan ga boleh. Yaa, gini deh nasip jarang latian. Sekali lagi, jangan kayak saya, ya-,-...
Tapi bapaknya menjelaskan dengan omongan, sampe tadi juga aku masih mikir gimana kalo kita kepikiran persis kayak bapaknya kita bisa nulisin semuanya dengan jelas dan tepat. Oke, kalo udah bisa mah ngalir aja kali ya nulisnya, bisa. Hehe :P

Oke semangat terus Fitrii buat matematika diskritnya ! Semoga ini nilai terendah dan nggak pernah terulang lagi selama kuliah! Aamiin. Semangat terus buat temen-temen semua yang mungkin masih UTS, masih ada ujian blok, dll. FYI, di kampus saya ini *oke maksudnya fakultas saya : gak ada remidi. Konsekuensi D atau E adalah ngulang di tahun berikutnya. Semoga NGGAK ADA MATA KULIAH SAYA YANG HARUS NGULANG. Aamiin. Hehe, semangat banget itu ampe di-capslock. Yaah, namanya juga tekad dan doa. Kalian juga harus gitu, ya. Tetep semangat :") ! Syukuri nikmat yang udah Allah kasih salah satunya dengan belajar sebaik mungkin. Itu bukti rasa syukur kita, lho, memanfaatkan kesempatan kuliah dengan maksimal. Chayo semuanyaa :D *jadi inget di rapor Fafa pas kelas 8 dulu wali kelasnya nulis gini. Tetap SEMANGKA *bukan semangat kakaa^^! Tapi SEMANGat Karena Allah :D

Bismillah ! :")
Still miss this, very much ~

Baca Quran sebelum belajar...
Kelas~
Pak Darno-dengan wajah khasnya :")

This uniform~

Rindu Itu~

Dan rindu itu mengganggu, rindu itu menyerang.
Tiba-tiba, entah apa pasal.
Rindu pertigaan itu, jalanan dekat jembatan gedung A-B.
Rindu seragam putih abu.
Rindu banyak hal.
Sungguh, entah apa pasal.

Aku rindu detik-detik itu.