Kamis, 10 Juli 2014

Sedikit Belajar tentang Menjadi Wanita pada Fitrahnya (Bagian 1)

Catatan hari keduabelas Ramadhan 1435 H…(bagian 1)

Hari ini, atas izin Allah, saya berkesempatan datang ke acara talkshow yang diadakan panitia RDK (Ramadhan di Kampus). Padahal suatu kejadian di pagi hari membuat saya nyaris membatalkan rencana untuk pergi pagi ini. Tapi emang semuanya kuasa Allah, hanya sekejap, niatan saya berubah haluan kurang dari waktu satu menit.

Saya tidak menyangka kalau materi talkshow ini akan berujung pada permasalahan yang sedikit menyinggung munakahat. Lihat saja topik pada posternya, perempuan menjawab tantangan zaman. Saya kira yang dibahas nantinya paling seputar bagaimana kita sebagai perempuan menjawab arus globalisasi yang terjadi saat ini. Ternyata tidak. Mmm, mungkin sedikit iya juga sih.

Ada banyak ilmu yang saya dapat hari ini, mungkin saya kurang bisa sistemati menyampaikannya layaknya pemateri tadi menyampaikan. Tapi semoga tetap bisa didapat kebermanfaatannya.

Acara ini diisi oleh tiga pembicara, dan pembicara pertama cukup bisa membawa iklim acara menjadi menarik. Saya rasa sebenarnya acara ini lebih cocok disebut seminar daripada talkshow. Baiklah, topik bahasan yang pertama adalah konsep pemberdayaan wanita dari perspektif Islam. Bahwa saat ini budaya barat yang sudah diadopsi oleh masyarakat kita adalah bahwa wanita dituntut menjadi superwoman. Di mana perannya sebagai pengurus rumah tangga juga digandakan sebagai wanita karir. Kemudian menjadi ke arah wanita sebagai single mother, ketika ia harus menghidupi keluarga tanpa bantuan suami. Dan kemudian pada fenomena maraknya penitipan anak sebagai solusi ketika sang ibu bekerja. Tidak sampai disitu, penitipan anak tidak dapat dijangkau biayanya oleh beberapa keluarga. Hal yang nyesek yang saya dengar tadi adalah bahkan ada ibu yang sampai hati meninggalkan anaknya selama delapan jam di mobil ketika ia bekerja. Tahu apa ujungnya? Anaknya itu meninggal. Ini kejadian nyata di luar negeri. Naudzubilahimindzalik.

Tidak ada yang salah dengan penitipan anak, selama sang ibu tetap bisa memberi kasih sayang yang cukup. Berkaca dari sejarah, dulu Rasulullah saw. juga disusui oleh Halimah As Sa’diyah. Tapi coba diperhatikan lagi, bahwa Halimah adalah ibu susu yang dipilih karena punya kualitas lebih dari ibunda Rasulullah sendiri. Halimah berasal dari suku yang bahasa Arabnya adalah bahasa Arab yang murni. Kalau ibu Erma selaku pemateri tadi bilang, “Saya belum pernah menemukan ada pembantu rumah tangga yang pendidikannya lebih tinggi dari ibu kandungnya sendiri.”

Kemudian poin selanjutnya adalah tentang fakta-fakta yang terjadi di masa ini.

Pertama, disfungsi ayah/suami.
Di poin ini saya baru tahu kalau pendidikan adalah tanggung jawab ayah, sementara pengasuhan adalah tanggung jawab ibu. Selama usia 0-2 tahun, peran ibu sangat penting karena di usia ini anak masih diberi asi. Dan pemberian asi secara langsung itu penting, karena di sini ada interaksi secara langsung antara ibu dan anak. Ketika menyusui, sang ibu bisa memmbacakan Al Quran, membaca doa, mengajak ngobrol sang anak, dan lain sebagainya yang akan mendatangkan kedekatan pada anak. Sementara jika menyusu menggunakan botol, anak akan cenderung memegang botol dan berusaha sendiri. Ia tidak berinteraksi secara langsung degan ibunya.

Sebagian ibu, merasa galau ketika punya tuntutan pekerjaan dan anak yang masih dalam usia wajib asi. Untuk menjawab kegalauan ini, Bu Erma bilang, kembalikan lagi pada prioritas. Apakah prioritas kita itu Allah? QS Al Baqarah ayat 233 menyebutkan bahwa seorang ibu hendaknya menyusui selama dua tahun penuh. Quran lho yang bilang. Sekarang kembali lagi pada diri masing-masing, prioritasnya pada siapa? *ternyata prioritas itu nggak cuma ibadah kayak shalat ngaji saja*

Kemudian usia selanjutnya 2-7 tahun masih menjadi tanggung jawab ibu. Di mana pada usia ini anak masih belum mandiri. Ia belajar makan sendiri, ke kamar mandi, dan lain sebagainya yang masih membutuhkan perhatian dan kesabaran ibunda. Namun setelah usia 7 tahun, anak sudah mandiri, maka ibu sudah tidak punya kewajiban lagi pada Allah dalam segi pendidikan anak. Kewajiban ini ada pada ayah, namun karena ibu sebagai seorang istri, ketika diminta menaati suami dalam bekerja sama mendidik anak, disitulah letak kewajibannya. Jujur saya juga baru tahu kalau kewajiban mendidik itu lebih dititikberatkan pada ayah. Bahkan Bu Erma bilang, ketika ayah dan ibu cerai, namun letak tinggalnya berdekatan maka si anak bisa siang ikut ayah untuk mendapat pendidikan lalu malam ikut ibu untuk mendapatkan perhatian dan kasih saying yang lebih. Namun jika ayah dan ibu kemudian tinggal berjauhan, ia mestinya ikut pada sang ayah karena padanyalah terletak kewajiban mendidik itu, sementara kasih sayang adalah hak sang anak yang bisa didapat dari ibunya. Dan kewajiban harus didahulukan daripada hak.

Poin kedua, fenomena bahwa istri tidak digaji.
Titel ibu rumah tangga pada kebanyakan orang masih dianggap kurang terhormat dibandingkan jabatan karir. Padahal kalau kita sadari, subhanallah, dari ibulah generasi yang lebih baik akan dimulai. Dan alasan kemandirian ekonomi membuat sebagian IRT bekerja. Alasan lain yang melatarbelakanginya seperti misalnya ketakutan jika nanti menjadi single mother (baik karena suami meninggal maupun cerai). Padahal dalam QS Ath Thalaq ayat 6 disebutkan bahwa meskipun sudah cerai, istri itu teta digaji (baca : dinafkahi). Sayangnya fenomena zaman sekarang udah nggak ngikutin kaidah-kaidah yang ditetapkan Al Quran.

Di poin ini juga dibahas tentang pemisahan harta antara suami dan istri. Bukan apa-apa, hal ini jika tidak dilakukan akan menimbulkan kesulitan ketika salah seorang meninggal dan harus dilakukan pembagian waris. Ingat, ahli waris bukan hanya anak, ada juga hak ayah, ibu maupun saudara-saudara. Salah-salah jika harta istri semuanya harta suami atau sebaliknya, maka orang-orang tadi tidak mendapatkan haknya. Ada lima hal yang termasuk harta wanita : mahar, waris (dari orang tua, saudara, dll), hadiah, nafkah dari suami, dan upah yang didapat dari luar. Kalau harta suami sama kayak istri tapi tanpa mahar dan nafkah dari suami.

Poin selanjutnya, disfungsi wali.

Bu Erma bilang, seharusnya orang itu tidak usah khawatir ketika ayahnya meninggal. Dalam konsep Islam, setiap anak yatim akan otomatis memiliki wali. Dan wali inilah yang akan mengambil alih semua urusan sang anak. Tapi, katanya lagi, kalau zaman sekarang mah repot ngurus wali itu cuma kalau mau nikah *apalagi anak perempuan*. Dan dalam Islam, konsep wali itu nyata. Hal ini perlu digarisbawahi. Ironisnya, masa sekarang ini solusi Islam masih belum diminati.

Baiklah, poinnya nggak saya bahas semua ya, nanti kalo mau kita ngobrol aja ;)

Kemudian yang menarik dan seringkali membuat dilema kaum hawa adalah tentang bekerja. Terutama pada para mahasiswa yang baru saja diwisuda alias sarjana. Mana yang akan dipilih? Kerja atau keluarga?
Kalau menilik ke pembahasan tadi, perempuan itu sebenarnya sudah ada yang menanggung. Jika bukan ayahnya, atau suaminya, maka akan ada walinya. Maka perempuan itu pada dasarnya tidak wajib bekerja. Ia baru wajib bekerja jika ada tuntutan syariat. Seperti apa contohnya? Misal di sebuah perkampungan ada seorang bidan. Jika ada penduduk yang mau melahirkan, maka ia wajib membantunya, karena ilmu yang ia miliki itu tidak ada yang dapat menggantikannya. Perempuan bekerja, seharusnya bukan karena tuntutan materi.

Yap, ini part 1nya, part 2 dan 3 segera saya post. Kalau dijadiin satu postingan nanti kepanjangan dan bikin males baca lagi, hehe. Tapi insya Allah ilmunya tadi dapet banget. Kalau ada yang kurang jelas, sila ditanyakan :))

Rabu, 09 Juli 2014

Derma Istimewa

Catatan hari kesebelas Ramadhan…

Derma selalu istimewa, karena begitulah janji yang diberikan Tuhan kita. Dan kita mau tidak mau harus percaya pada janji-janjiNya, sebagai salah satu wujud mengimaniNya. Dalam QS Al Baqarah ayat 261, Allah menjanjikan bahwa perumpamaan nafkah yang diberikan di jalan Allah akan serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, kemudian pada tiap bulir tersebut terdapat seratus biji. Melalui Matematika sederhana, dengan cepat kita dapat melakukan kalkulasi bahwa hasilnya adalah tujuh ratus kali lipat dari nafkah yang diberikan di jalan Allah tersebut. Subhanallah, betapa besarnya.

Tapi kajian hari ini memberi kami pengertian lebih luas, bahwa balasan Allah yang tujuh ratus itu tak melulu berwujud serupa dengan apa yang kita nafkahkan (baca : uang). Adakah kita sadar bahwa nikmat kesehatan, kecerdasan, keluarga, lingkungan, sahabat, rasa aman dan nyaman, dan lain sebagainya bisa jadi merupakan balasan yang diberikanNya. Kita mungkin jarang menyadari, karena yang terindra lebih mudah terasa. Kesehatan, misalnya, tak terindra secara langsung bukan? Bukankah sering sekali orang bijak bilang bahwa nikmatnya sehat baru terasa ketika sakit?

Kemudian pemateri melanjutkan lagi. Ayat selanjutnya yang menyebutkan bahwa amalan yang tidak diiringi oleh manna dan adzaa akan berbalas ajrun ‘inda rabbihim, pahala di sisi Tuhan mereka. Kita mulai dari kata manna. Saat tadi disebutkan, saya mencoba merecall materi Quran Hadits semasa kelas delapan. Saya ingat betul Bu Ajeng, guru kami kala itu menyuruh kami menghafalkan serangkaian ayat tentang derma ini. QS Al Baqarah ayat 261-264. Empat ayat yang lumayan panjang dalam satu bab pembahasan di buku paket Quran Hadits kami. Akhirnya satu orang tidak menghafal keempat ayatnya, Bu Ajeng memilih membagi satu ayat bagi satu oarng dan hari itu juga setoran.

Kata manna yang saya pahami saat itu memiliki arti ‘menyebut-nyebut pemberiannya’. Dan kalau malam ini saya lihat lagi di Quran, terjemahnya memang itu. Tapi sekali lagi, kajian tadi memberi pemahaman lain yang lebih luas, manna berarti merasa bangga, merasa berjasa.

Saya tercekat, merasa bangga dan tidak menyebut-nyebut lagi adalah dua hal yang berbeda. Begitu mudah menahan lisan untuk tidak menyebut-nyebut pemberian. Juga begitu mudah untuk menahan jari menekan tuts keyboard untuk update status tentang sedekah hari ini, atau yang telah lalu. Tapi merasa bangga? Kita masing-masing punya jawabannya sendiri.

Sangat tidak mudah untuk lari dari rasa bangga. Seperti ketika kita telah meraih prestasi, rasa bangga menyelinap muncul. Seperti ketika kita telah membantu meringankan beban orang lain, rasa bangga perlahan timbul. Juga seperti ketika tangan kanan sudah memberi dan mengupayakan tangan kiri tidak tahu, akankah perasaan ini benar-benar luput dari perasaan bangga? Merasa berjasa atas pemberian yang telah dilakukan? Sudah semurni itukah pemberian yang telah kita berikan ? :””

“Jangan merasa berjasa atas Islammu,” begitu yang terdengar tadi. Megutip QS. Al Hujurat ayat 17, “Mereka merasa berjasa atas keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” Ah, emang semua ini miliknya Allah, ya :” Bahkan Qarun pun dibinasakan karena ia ketika ditanya asal muasal harta bendanya ia menjawab “Sesungguhnya aku diberi harta semata-mata karena ilmu yang ada padaku” (QS Al Qasas : 78).

Kemudian adzaa, artinya menyakiti penerima. Ayat ini menyatakan bahwa sedekah yang tanpa diiringi manna dan adzaa akan berbalas pahala di sisi Allah. Kalau di ayat sebelumnya yang tujuh ratus itu balasan di dunia. Sementara pada ayat 262 ini yang dimaksud adalah pahala yang kelak akan di dapatkan di akhirat. Pahala akhirat yang nilainya jauh lebih berharga dari balasan-balasan di dunia. Karena akhirat itu selamanya sementara dunia ini? Hanya permainan dan senda gurau, bukan?

Bagaimana jika kita tidak memiliki uang atau harta untuk didermakan? Maka Allah jawab dengan ayat selanjutnya, Al Baqarah ayat 263, bahwa kata-kata yang baik dan pemberian maaf pun dapat dikatakan sebagai sedekah. Keduanya bahkan lebih baik daripada derma yang diiringi dengan sedekah yang menyakiti penerima. Menyakiti ini bisa diartikan dengan menyakiti secara fisik (memberi dengan cara dilempar, misalnya) atau menyakiti hati (memberi disertai cemoohan, misalnya).

Kemudian selanjutnya, ayat 264. Bahwa tidak semua derma serta merta akan diterima Allah, maka seruan Allah berbunyi Yaa ayyuhalladziina aamanuu, khusus untuk orang-orang beriman. Dan agar diterima, tentu harus memenuhi hal-hal yang disebutkan tadi, seperti tidak diiringi manna dan adzaa, juga tidak diiringi riya. Kalaulah yang pertama tadi perumpamaannya seperti benih yang menumbuhkan tujuh bulir yang masing-masingnya berisi seratus biji maka derma yang seperti ini seumpama batu licin yang di atasnya terdapat tanah, kemudian terguyur oleh hujan. Maka bersihlah batu itu dari tanah, tidak tertinggal sedikit pun, tidak menyisakan apapun.

Di akhir, disebutkan bahwa jika kita mendapat kebaikan, terapkanlah ayat terakhir surat Ad Dhuha, di mana terhadap nikmat yang didapat dari Tuhan, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur). Menyatakan di sini juga bisa berwujud syukuran kecil-kecilan tanpa melupakan syukur kepada Allah (ini jelas yang utama). Bukan menerapkan apa yang disebutkan QS Al Ma’arij ayat 21, di mana ketika seseorang mendapat kebaikan, maka ia amat kikir. Na’udzubillahimindzalik, semoga kita senantiasa diberi petunjuk oleh Allah untuk senantiasa bersyukur dan dapat menafkahkan sebagian rizki di jalanNya. Aamiin.


Sulit memang mengikhlaskan harta benda yang menjadi kecintaan di dunia sebagai derma di jalan Allah. Juga sulit untuk melakukannya tanpa perasaan telah berjasa atau rasa bangga. Tapi itulah, karena sulit itulah maka janji Allah adalah balasan tiada tara. Bukan balasan serupa kipas angin, voucher belanja, piring cantik, ataupun malah kupon gesek dengan tulisan coba lagi atau anda kurang beruntung. Yang ini pahalanya besar, dan yang punya kuasa untuk memberikannya? Hanya Allah semata.

[semacam resume dari kabuma di maskam hari ini, terbaca serius banget ya ;) ? Semoga bisa diambil hikmahnya dan sama-sama menjadi pelajaran buat kita semua]

gambar dari sini

Sabtu, 05 Juli 2014

Urusan Niat Seseorang yang ‘Lebih’ dari yang Lainnya

Ini tulisan hari ketujuh Ramadhan saya. Baca judulnya intonasinya dijeda habis niat. Jadi kata lebih itu punyanya seseorang [biar ga ambigu].


Suatu ketika, pernah terbersit di pikiran saya, untuk orang-orang yang punya hafalan banyak, apabila ia jadi imam di tengah-tengah orang yang hafalannya di bawahnya (atau mungkin jauh di bawahnya), bagaimana sebaiknya ketika ia menjadi imam? Apakah tidak apa ia bacakan saja hafalan-hafalannya yang sudah jauh dari yang lainnya itu (apalagi memang jika biasanya shalat ia membaca demikian), atau lebih baik ia baca saja hafalan yang dihafal juga oleh orang kebanyakan, serupa surat-surat pendek juz 30. Bukan, orangnya bukan saya. Saya hanya pengamat keadaan. Dan hari ini hal yang mirip terjadi lagi, sehingga pikiran-pikiran ini muncul kembali di kepala.

Saya juga pernah terpikir, orang-orang yang biasa melakukan shalat sunnah ba’diyah atau qabliyah, saat berada satu jamaah shalat dengan orang-orang yang jarang melakukannya, bagaimana sebaiknya. Apakah ia melakukan saja kebiasaannya itu, atau tidak usah. Ketakutan ini semata-mata karena kekhawatiran tidak murninya niat ketika ia melakukannya. NIat, menurut saya, adalah hal krusial yang begitu rawan. Sebegitu krusialnya sampai sebuah hadits mengatakan bahwa segala perbuatan tergantung pada niatnya. Rawan, karena kemurniannya begitu mudah tergoyahkan oleh hal-hal sederhana saja, serupa perhatian orang-orang disekitar kita.

Membaca surat seperti surat-surat di luar juz 30 (karena juz 30 mungkin sudah terlalu mainstream dihafal mayoritas orang), bisa jadi menimbulkan kekaguman dari orang-orang sekitarnya, karena hal ini jarang dilakukan. Terutama di lingkungan-lingkungan umum, bukan di lingkungan-lingkungan pendidikan yang memang siswa siswinya banyak yang menghafalkan surat-surat serupa. Kekaguman inilah yang bisa jadi membuat seseorang goyah niatnya. Salah-salah secuil perasaan di hati ingin dirinya diperhatikan dan tanpa sadar muncul secuil rasa sombong. Urusan niat ini, takutnya, tidak terasa. Kadang seseorang rasanya senang kan ketika punya kelebihan dibanding yang lain? Dan, naudzubillahimindzalik, kita tidak pernah tahu kapan rasa sombong itu muncul pelan-pelan dalam niat kita, menyelinap tipis dalam perbuatan kita. Kita tidak pernah tahu, atau malah terlalu sombong untuk mengakuinya juga.

Pun halnya ketika berdiri kembali selepas shalat wajib untuk menunaikan shalat sunnah. Bisa jadi, ada perasaan tidak nyaman bagi seseorang ketika ia berdiri sementara lainnya masih duduk. Apalagi jika shalat jamaah dengan lawan jenis di tempat tanpa hijab/sekat pembatas antara shaf putra dan putri. Takut sombong, tapi tidak mengerjakan rasanya bagaimana. Apalagi jika selama ini ia sudah bersusah payah mengerjakan tanpa putus, misalnya. Tapi disisi lain, ia pun takut dengan kemungkinan-kemungkinan berbeloknya niat itu. Saat ia berdiri, ia berpikir, apakah orang akan melihatku kemudian kagum? Atau bilang ‘alim banget sih dia’? Atau jadi terkesan rajin? Awalnya bisa jadi ia ragu, tapi setelah menimbang kebiasaannya shalat sunnah, ia mungkin akan mengerjakan. Meski takut juga salah-salah tanpa sadar secuil perasaan hatinya memuji diri sendiri.

Saya pernah memikirkan hal tersebut dan kemudian mencari-cari apa alasan yang paling tepat untuk menjadi jawaban. Di sisi lain saya membenarkan bahwa hal tersebut bisa jadi pemicu sombong, tapi di sisi lain hal ini dapat memacu semangat orang-orang di lingkarannya untuk memacu diri menjadi lebih baik, dalam hal hafalan surat dan shalat saja misalnya. Sedemikian rumit masalah niat ini sampai saya teringat blog Gian  yang memposting ulang kalimat-kalimat dari akun @bersamadakwah, begini isinya :

"Jangan meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali.
Jangan meninggalkan dzikir karena ketidakhadiran hati. Kelalaianmu dari zikir lebih buruk daripada kelalaianmu saat berdzikir.
Jangan meninggalkan tilawah karena tak tahu maknanya. Ketidaktahuan makna dalam tilawah masih lebih baik daripada ketidakmauan membaca firmanNya.
Jangan meninggalkan dakwah karena kecewa. Kesabaranmu bersama orang-orang shalih lebih baik daripada kesenanganmu bersama orang-orang yang tidak shalih.
Jangan meninggalkan amanah karena berat. Beratnya amanah yang kau emban sebanding dengan beratnya timbangan amal yang akan kau dapatkan.
Jangan meninggalkan medan juang karena terluka. Kematian di medan juang lebih baik daripada hidup dalam keterlenaan.
Jangan meninggalkan kesantunanmu karena lingkungan kasar. Santunmu saat dikasari hanya akan menambah kemuliaan dan mengundang simpati.
Jangan meninggalkan kesetiaan karena dikhianati. Setia kepada janji selalu lebih baik daripada mengkhianati orang yang mengkhianati.
Jangan meninggalkan cinta karena cemburu. Kecemburuan dalam cinta jauh lebih indah daripada kegersangan jiwa tanpa cinta."

Mungkin yang paling relevan adalah poin pertama, Jangan meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali. Meski di sini saya posting semuanya karena isinya menarik dan membuat seseorang (kalo bahasa sekarang mah) stand on their side. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, selama itu baik, dan lakukanlah sambil meluruskan niat.

Jangan meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali. Mungkin kita perlu berdoa kuat-kuat dalam hati, agar diri ini senantiasa ikhlas melakukan segala sesuatu. Doanya tentu bisa kata-kata ciptaan sendiri, karena tidak ada batasan bahasa untuk meminta apapun kan? Tapi saya tetiba jadi teringat Surat Al Isra ayat 80. Ayatnya demikian  :


“Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku).”

Nah yang menarik, salah satu dari sedikit tafsirann ayat tersebut di Quran saya, tertulis di sana begini,”Memohon kepada Allah agar kita memasuki suatu ibadah dan selesai daripadanya dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan serta bersih dari riya dan dari sesuatu yang merusakkan pahala…”

Semoga perbuatan kita semua selalu dilandasi oleh istilah ini : ikhlas. Dulu di DM saya pernah baca IKHLAS itu : Ibadah Karena Hati Lebih Allah Sukai, pas banget ya kayak kepanjangannya ikhlas gitu. Pada akhirnya, saya menarik kesimpulan. Kalau memang biasa membaca surat yang panjang, atau biasa shalat sunnah, atau kebiasaan baik lainnya, lakukan saja. Selama kebiasaan baik itu juga hal yang disenangi Allah. Tentunya sambil berusaha penuh untuk senantiasa meluruskan niat, semua orang berproses kok. Dan kita pun bisa belajar untuk meluruskan niat salah satunya dengan senantiasa bedoa memohon agar selalu diluruskan niatnya, ikhlas menjalani segala perbuatan kita.

Terakhir, buat closing statement, saya suka sekali kata-kata Bu Evi, wali asrama Gycentium putri (angakatan 15 MAN Insan Cendekia Serpong), kurang lebih begini,

“Setiap baru bangun tidur, usahakan selalu ingat untuk meluruskan niat, berdoa kepada Allah agar apa-apa yang kita lakukan seharian ini selalu diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah. Karena kalau sudah beraktivitas itu mungkin sulit lagi ingat tentang meluruskan niat.”

Yuk sama-sama belajar meluruskan niat :), saya juga masiiiiih belajar :”)

gambar dari sini

Kangen Kalian Gyc :")

kangen kalian gyc :"
ini posternya pake font bikinan Ariq ya?
itu ada Alam sama Romadon mengarah ke Aam sama Roma kah?
Vincus cus nya cusriana apabanget lah *nama aslinya yusriana, tapi apadaya dipanggilnya Vincus*
kapan ya bisa kumpul sama kalian lagi, kumpul yang ramean
tahun depan jelas puasa nggak pulang, kan KKN
semoga kabar kalian selalu baik-baik saja :")

Memprioritaskan Allah

Ini tulisan untuk hari keenam Ramadhan. Kemarin, isi tulisan ini sama sekali bukan salah satu di antara topik yang sempat saya pikirkan. Tapi pada akhirnya saya menyerah pada kondisi fisik dan hati yang sudah sangat lelah. Saya tidur sepulang tarawih. Menyetel beker agar terbangun sekitar 20 menit kemudian. Dan galau akut menjelang memejamkan mata, menangis pula. Kemudian tertidur. (Merasa) Lelah mungkin membuat tidur saya jadi berkepanjangan. Tapi apa daya, bahkan kalau nggak dibangunin salah seorang Mbak kos, saya nggak dapat sahur juga pagi ini.

Saya lelah. Lelah fisik, pikiran, hati. Meski saya pun menertawakan diri sendiri atas pernyataan lelah ini. Lelah apa yang layak saya keluhkan kalau bahkan ini tidak ada apa-apanya dibanding apa-apa yang dulu dilakukan rasul dan para sahabatnya selama Ramadhan. Bahkan keharusan berperang saat Ramadhan. Dan satu hal, semua itu tidak akan bisa dilalui tanpa rasa cinta yang besar, ikhlas yang tinggi, serta keridhaan atas segala ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Allah serta janji surga sebagai jaminan abadi atas seluruh pengorbanan.

Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, prioritas macam apa yang sudah kamu berikan pada Rabbmu? Saya sadar bahwa dua hari belakangan bahkan tilawah saya tertinggal jauh dari targetan. Shalat yang cenderung tidak khusyu’, bahkan hal kecil seperti senyum (dari hati) sulit sekali dilakukan. Saya dengan egoisnya merasa bahwa saya sedang berada pada kondisi yang tidak saya harapkan. Apa yang menyenangkan daripada berada pada kondisi yang ingin segera saya akhiri (karena merasa pada akhirnya, niat kegiatan itu hanya berorientasi pada dunia), deadline yang mendadak dan harus dipenuhi seolah-olah segalanya akan selesai semudah itu, serta rasa rindu yang meletup sampai pada ujung-ujung pelupuk mata?

Maha suci Allah yang begitu mudah membolak-balikkan hati dan perasaan. Kemarin misalnya, saya merasa kesal, tetiba bahagia, semangat, pesimis, takut, dalam satu hari yang sama. Perpindahan ruang dan orang-orang yang saya temui memudahkan perpindahan perasaan itu terjadi. Saya sadar, pada semua titik, saya harus mengembalikan segalanya pada Allah. Maka kemudian pada kondisi yang ingin segera saya akhiri tadi, saya mencoba untuk mengeksplor alasan apa yang masih dapat membuat saya bersyukur pada kondisi ini. Nihil, belum ketemu. Berminggu lalu saya sudah melakukannya untuk keadaan yang sama pula, kemudian bisa terobati. Hari ini entah kenapa sulit sekali menemukannya. Apa barangkali hati saya yang terlalu keras, atau makin sulit saja melompati tembok-tembok keegoisan itu. Saya sadar, prioritas dan hal yang mendominasi kami masing-masing bukan acara ini, dan mungkin karena niat utamanya masih dunia, sulit sekali menemukan titik yang membuat saya percaya bahwa pengeluaran yang sudah terjadi itu memang layak dipertanggungjawabkan.

Tapi kalau demikian, kalau saya ingin berbaikan dengan takdir untuk mencintai proses ini, maka saya harus segera menemukannya. Setidaknya dengan demikian saya tidak rugi dengan keputusan pulang yang masih (ah Arum, kamu bikin aku sadar bahwa ini masih 2 minggu lagi T^T)…berhari-hari lagi.

Selepas acara itu saya beranjak ke mushala, ada rapat selepas ashar. Saya sudah di sana, tapi pikiran saya tidak. Saya merindukan tempat bersandar tapi entah mengapa saya tidak menemukannya. Shalat tidak membuat perasaan kunjung tenang. Mungkin ada yang salah pada shalat saya. Dan saya tidak juga menemukan bahu yang bisa saya sandari di dunia. Perasaan campur aduk tak kunjung membaik. Bahkan pada shalat pun belum juga memberi ketenangan.

Mungkin saya belum memberi ruang yang cukup untuk Allah sebagai prioritas. PR saya besar untuk kemudian mendekat lagi padaNya dan menemukan ketenangan seperti yang dijanjikannya. Menemukan keikhlasan agar saya kian maksimal dalam ibadah dan tak perlu mengharap apa-apa selain ridhaNya. Saya sesekali heran, begitu banyak orang di luar sana yang juga belum memberi ruang lebih untuk tuhannya, tapi mengapa saya melihat mereka sepertinya baik-baik saja. Apa karena saya pernah berada di lingkungan asrama di mana semua berjalan secara sistemik dan merasa hal seperti itulah yang ideal. Saya tahu sistemik berarti buatan dan realita pada kehidupan yang sesungguhnya adalah justru diri sendiri lah yang akan benar-benar punya kuasa penuh atas diri ini.

Dulu, saya setidaknya pernah mengalami di mana rapat akan benar-benar selesai maksimal setengah enam, untuk memberi ruang mempersiapkan maghrib (jika maghrib benar-benar jam enam—standar waktu Jabodetabek). Dan menjalani maghrib akan satu paket dengan isya, yang ditengah-tengahnya dapat diisi dengan makan, istirahat, ataupun membaca Quran. Jika pun kegiatan dilanjutkan lagi, maka akan dilanjutkan selepas Isya. Semua proses berjalan beriringan dan seimbang. Tanpa menerlantarkan waktu shalat dan memberi ruang untuk tilawah ataupun diskusi ringan lain. Tapi ini sistem, dan terikat atas instansi. Di luar, diri kitalah sang pemegang kendali. Banyak pilihan dan saya harus pintar-pintar bagi waktu, juga untuk memprioritaskanNya. Kalau baca postingan Mbak Yasmin yang ini, maka benar, rasanya ingin menangis. Terlalu banyak hal dunia yang masih berebut perhatian dan saya masih terlalu sibuk meladeninya. Jika saya masih belum memberi prioritas pada Allah, mau sampai kapan seperti ini? Apa siap kalau nanti dipanggil menghadapnya. Apa sudah siap?
***
 Saya ingat cerita seorang teman yang pernah diceritakannya secara langsung pada saya. Suatu hari ia bercerita pada murabbinya tentang kekecewaannya pada suatu lembaga yang ia ada di dalamnya. Jadi kadep pula. Setelah menasihati tentang meluruskan niat, MRnya bilang gini,
“Kamu tilawah aja dek, dua juz. Nanti juga hilang sendiri.”
Kemudian saya bertanya, lalu kelanjutannya gimana? Dia bilang waktu itu dia kemudian juga tilawah. Meski nggak sampai dua juz, tapi saat itu ia melebihkan bacaannya dari biasanya. “Dan habis itu….bener Fit, hilang. Rasanya jadi tenang.” Saat itu saya tersenyum, kemudian meminta izin suatu saat mengutip percakapan ini di blog saya. Dia mengizinkan.

Kalau shalat masih belum memberi ketenangan, mungkin karena di dalamnyalah kita bercakap-cakap langsung dengan Allah dan belum melakukan persiapan sebelum memulainya. Tapi bercakap-cakap juga butuh intro dan mungkin kalau dianalogikan, semacam latihan agar ‘percakapannya’ bisa lancar dan mengalir secara enak penuh ketenangan. Shalat agar khusyu salah satunya adalah dengan mendahuluinya dengan tilawah Quran, atau dzikir, atau memurajaah hafalan. Mungkin jika diintro demikian, shalatnya akan lebih khusyu, coba saja.

Wallahu a’lam bish shawwab, saya juga masih harus banyak belajar.

yang sedang menerapi diri dengan menulis.

Oh iya kalau mau mungkin juga bisa baca tulisan ini

gambar dari sini