Senin, 15 April 2019

Panik

"Kamu tuh fit, paling rusuh, ekspresif, panik, udah gitu ngomong sendiri."

"Heu, gitu ya. A, B, C, D emang ga ada yang kayak gitu?" Saya menyebutkan beberapa nama, lupa berapa.

"X ekspresif, tapi nggak panik. Y hmmm, ekspresif, enggak sih. Iya kamu doang yang kayak gitu."

"Lalu, gimana biar saya bisa nggak kayak gitu?"

"Tarik nafas dari hidung, keluarin dari mulut."

*mempraktekkan*

"Kamu nggak pernah ya Fit nggak ngapa-ngapain?"

"Ha, maksudnya gimana?"

"Iya, kamu nggak pernah ya nggak ngapa-ngapain?"

"Nggak ngapa-ngapain itu apa? Bengong?"

"Iya, bengong 10 menit gitu pernah nggak?"

"Kalau bengong saya nggak inget. Tapi gimana mungkin nggak ngapa-ngapain? Lihat langit-langt aja kan ngapa-ngapain. Nafas juga ngapa-ngapain..."

"Saya dulu waktu kuliah, sering. Dengerin musik atau murottal gitu, di kampus hari sabtu, di pinggir lapangan sambil nonton basket. Sekian menit. Terus jadi tenang."

"Kok bisa jadi tenang?"

"Iya, kalau denger murottal kan gitu, jadi tenang" dijawab malu-malu.

"Kamu dengerin apa nonton basketnya?"

"Dua-duanya."

"Hoo, bisa gitu, ya dua-duanya. Terus efeknya apa ke kehidupan sehari-hari? Kalau itu kan ya emang nggak ada apa-apa. Ga ada deadline, kerjaan, dan lain sebagaianya."

"Kebawa kok Fit, kerasa."

"Wah, bisa gitu ya."

Kayaknya saya butuh banyak latihan biar gak panik, dalam hati.
***
Oh, sama butuh penawar yang bisa menenangkan, dari diri sendiri kooook. Yha, kalau mau bantuin juga boleh.

Kadang, saya khawatir kalau panik diri ini kebawa ke mana-mana, menyangkut ke kehidupan orang lain. Apalagi kalau Allah izinkan berkeluarga dan Allah izinkan punya anak (aamiin). Kebayang lucunya bayi, kadang takut baby blues. Kebayang masa tumbuh anak, kadang takut persaingan ibu-ibu yang yagitudeh. Takut sama perasaan gagal jadi ibu gara-gara baca curhatan orang-orang, haha. Padahal nikah aja belum. Heu, zaman generasi ibu saya, ga ada medsos, kayaknya dunia tentram damai ya :)
Tapi kan gitu ya kehidupan, selalu ada aja ceritanya. Dan kemarin kan saya nulis ya soal kekhawatiran yang bertingkat.
Kalo kata Ummi, jangan takut. Yakin bisa, dengan bantuan Allah.
Seringkali, yang ditakuti hari ini, nggak semenakutkan itu kok.

Cerita Ummi dan Cerita Penerimaan yang Luas

Kemarin di perjalanan pulang, mata saya lelah sekali. Memang saya belum sehat sempurna setelah sakit. Saya menutupi mata saya ddengan tisu, karena pengen dibawa merem, tapi gabisa juga buat tidur. Seentara saya pun takut kalo tidur di jalan. Saya takut bangun-bangun saya jadi pusing, kayak waktu bangun pagi. Jadi saya paksain tetep bangun, tapi matanya merem.
.
Gak kerasa, saya malah nangis. Untung ketutupan tisu, jadi ga trlalu keliatan Meski sempet ngalir di pipi juga.

.
Hm, ada pemicunya sih. Bukan nangis yang nangsi gitu aja. Antara malu, kesel, bersyukur, haru.
***
Dari buku Teman Imaji karya Mutia Prawitasari, saya belajar bahwa ulang tahun adalah saatnya mengucapkan terima kasih kepada orang-orang di sekeliling, yang telah menjadikan diri ini hari ini. Terutama orang tua. Jadi bukan soal perkara menunggu atau bahagia soal ada ucapan. Saya pun masa bodoh orang ingat atau tidak. Saya sudah menyembunyikan tanggal itu di identitas media sosial manapun-i more appreciate someone who remmeber because they remember, not bcs of medsos notification.
.
Saya juga pekan lalu pingin ngucapin teria kasih ke banyak orang. Namun rupanya saya belum seniat itu. Salah satunya tentu saja kepada Ummi.

Kemarin saya ingat Ummi. Dan saya ingat tulisan lama saya di 2015 (saat saya flashback, saya takjub juga ternyata yang komen ada beberapa :")). Kalau mau bisa baca di sini. Aih, bahkan saya pernah menulis keresahan soal kata cantik di jurnal harian saya waaktu aliyah. Saya tulis di kursi tepi lapangan bola sekolah. Hari Jumat kalau tidak salah, saya pakai seragam batik. 2012, sudah lama sekali :")

Ummi tidak pernah repot soal make up atau soal tas bagaimana yang dibawa. Bahkan sepanjang saya bisa mengingat, saya belum pernah rasanya melihat Ummi pakai lipstick di depan saya. Satu-satunya yang pernah diceritakan adalah waktu Ummi ada rekaman soal Islam, dan pakai lipstiknya diusap jari, diminta tim videografernya agar tidak kelihatan pucat di dalam video. Dalam rangka urusan dakwah. Itu pun hanya saya dengar lewat cerita. Saya tidak pernah lihat Ummi repot kalau mau undangan. Paling-paling repotnya nanya, ini matching gak ya warnanya, hehe #womanproblem. Jadi dulu waktu di kontrakan ngomongin dunia kerja, saya justru nanya ke adik-adik 2013, kenapa sih orang kerja pada pake make up? Emang harus ya? Lalu dijawab lah, katanya pakai make up itu menghargai lawan bicara, biar rapi, dsb gitu. Pas itu kayak belum bisa terima gitu sih. Lah emang menghargai orang lain harus dengan make up? Aku merasa gak make sense gitu, haha. Tapi ya paham sih, karena mindset dunia sekarang sampai situ. Alhasil ya demikianlah belief yang diercaya masyarakat. (dan saya bersyukur bekerja di tempat yang nggak melihat orang dari make up :"))
Dan saya bersyukur mengingat Ummi yang sederhana :")
Btw, make up is different with menjaga tubuh-atau case ini wajah-dengan baik, ya.

Sekali waktu, pernah teman saya nanya waktu akhir-akhir di asrama. Fit, nggak kepengen ganti tas pakai yang kayak prempuan dewasa gitu? Ah, mengingatnya saya mau ketawa sendiri. Pertama, saya anak ilkom (cie ngaku) yang waktu itu hampir selalu bawa laptop ke mana-mana. Pegel lah ya bawa laptop pake tas cewek gitu. Kedua, saya tahu persis ummi saya waktu itu ke mana-mana nyaris selalu bawa ransel. Kalo pergi ngaji, sih biasanya (mayoritas aktivitasnya itu sih hehehe). Bawa ransel apa aja bisa dimasukin. Terus kalo pulang dan mampir belanja, ummi bisa masukin belanjaanya ke ranselnya terus jdi ga rempong tenteng-tenteng. As it is. Kalau bawa ransel juga imbang gitu kan, pundak kanan kiri. Ya kalau ke undangan Ummi gabawa ransel sih. Dan mungkin sampai besar anak akan jadi peniru, ya rupanya. Saya merasa cukup dengan ransel. Dan nggak merasa butuh tas-tas perempuan yang ditenteng gitu (ini tas cewek yang rada gedean buat bawa agak banyak barang gitu untuk aktivitas). Aku tidak tahu ini cukup aneh atau tidak. Atau ya mungkin saja nanti-nanti berubah, wallahu a'lam. Ingatan saya terakhir Ummi bawa tas perempuan gitu waktu saya sd, pernah dua kali model tas. Dulu waktu saya SD pernah juga sih sekolah bawa tas yang ditenteng gitu pas hari eskul, wkwkwk. Belinya nitip temen umi yang tipikal matching dan pandai menawar. Seragamnya olahraga warna hijau, tasnya kalau nggak pink warna biru. Mengingatnya lucu juga, betapa tidak nyambungnya.

Lalu, apa yang bikin saya nangis di jalan mengingat hal-hal ini?
Hmm, apa ya kalau dilukiskan, saya jadi kebayang aja sih, nilai yang ditanam di keluarga, sadar tidak sadar akan terwariskan, dan mungkin juga akan menurun jika Allah izinkan. Baik perempuan atau laki-laki, ketika melihat mana yang penting bagi orang tuanya, mungkin itu yang juga akan diwariskan pada keluarga dan keturunannya kelak. Saya jadi ingat, dulu adik saya pernah rempong sekali milih baju. Terus abi gemes, sampe bilang yang intinya (lupa redaksinya), itu tuh nunjukin mana yang penting buat kamu, apa yang penting itu cuma penampilan/baju? Terus aku jadi merasa, ya Allah, keluarga tuh penting banget ya. Di sana loh ditanamkan nilai, dijadikan pembiasaan, disadarkan mana yang penting dan yang tidak, mana value keluarga mana yang bukan. Kalau arah keluarganya nggak tau ke mana, terombang-ambing di keluarga, anak akan cari kiblat lain di luar sana. Bisa lingkaran pertemanan (yang belum tentu baik), bisa media sosial, bisa artis, dan lain sebagainya.

Saya juga jadi terharu aja sih, soal penerimaan yang luas. Mungkin efek abis datang ke dua undangan, saya jadi berpikir, orang menikah itu, penerimaannya luas sekali, ya. Bayangin, ada satu sama lain yang mungkin dia baru tahu sedikiiiiit aja (katanya sebelum nikah tau banyak pun, abis nikah akan tetep banyak kagetnya). Lalu saling sepakat mengarungi hidup bersama, dengan segala konsekuensinya, senang sedihnya, tawa tangisnya, dan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Tapi bersepakat artinya menerima. Segala lebih kurang, kebiasaan yang baik dan buruk. Bahkan soal fisik atau label atas sikap yang orang kadang gak pede tentangnya, lalu ada orang yang mau menerima dengan penerimaan yang luas.

Heu, nggak ngerti lagi, aku. Ada lho, yang siap menerima segala kekuranganmu(semoga benar begitu). Penerimaan yang luas yang terbungkus oleh sabar dan syukur :")
Aku nangis juga kayaknya bagian ini kemarin.

Semoga hal-hal tentang penerimaan itu awet, nggak cuma karena nafsu suka semata lalu karena mau nikah jadi mentolerir hal-hal tersebut. Lalu udahannya malah jadi hal yang diungkit-ungkit atau menimbulkan cekcok. Karena, katanya kalau nikah karena fisik atau sekedar cinta, dua tahun lalu perasaan-perasaan itu akan hilang. Katanya sih. Makanya perlu alasan yang lebih besar. Beyond that.
Tapi kembali, cinta yang baik adalah yang menumbuhkan, bukan yang apa adanya. Jadi ingat tulisan lama ini.

semalam sampai rumah, rekor suhu tertinggi selama beberapa hari terakhir
minum obat, kompres byebyefever andalan meski tulisannya unuk anak-anak, bawa tidur
pagi alhamdulillah sudah turun, walau masih lemes dan ngegrundel-grundel aja saat adikadik repot mau berangkat sekolah

Kamis, 11 April 2019

Halo Diri, Halo Hati

Halo diri, halo hati.
Hari ini, udah jujur sama diri sendiri?
Udah mengerjakan apa yang ingin dikerjakan?
Udah bersyukur sebagaimana harusnya?
Udah memberi hak pada yang berhak?
Udah menuntaskan kewajiban?
Udah menambah kapasitas diri, baik ilmu maupun keterampilan?
Udah menghargai orang lain?
Udah belajar hal baru?
Udah ngerasa bisa menerima pernyataan spontan yang barangkali kelak akan terulang setiap hari, dalam banyak keadaan?
.
Apa sih Fit yang dicari?
Gimana sih Fit memanage amanah waktu dengan segala hal kesibukan yang dikejar?
Gimana sih urutan prioritas kamu?
Berapa banyak alasan yang kamu buat hari ini?
.
--aku yang udah beler dan harusnya istirahat, tapi tidak tenang :(

Pulang


Kemarin aku nggak tahu kenapa pengen banget ubah whatsapp status jadi Pulang. Kayaknya ngubahnya juga udah di kantor sih. Lalu hari ini melhat postingan itu di dashboard blog. Aku jadi sedih. Tapi banyak benarnya.

Hari ini karena ngejar deadline caption habis zuhur, dan waktu aku selesai Ima lagi nanggung, kami ngaji jam dua di mushala. Aku bilang ke Ima, "Ma, gimana Ma ngajiku nggak teratur banget nih...." Rencana tilawah persiapan ramadhanku buyar. Sudah tertinggal jauh. Hariannya juga cuma dikit-dikit, bahkan pernah skip. Aku sedih banget rasanya.
Lalu Ima bilang, "Dahulukan urusan Allah. Nanti Allah yang urus urusan kita."
Me like: tertampar bolak-balik.
Ima bilang lagi soal tilawah sehabis subuh dan sehabis kerjaan. Aku sempat cerita aku lemah banget habis subuh tu. Tapi bener sih yang dia bilang habis dhuha. Itu bisa dicoba. Aku jadi sedih aja kayak nggak prioritasin Allah, padahal diri ini kan selalu butuh sama Allah. 
Mungkin karena itu juga kali ya, Allah kasih aku pilek, meler, tenggorokan ga enak, pusing, di tengah kerjaan yang tetiba jadi banyak ini. Lalu jadi kayak ingin  menarik diri dari segala yang ramai-ramai, meski kadang aku kangen obrolan-obrolan di ruangan. Maafin hambaMu ini ya Allah :"(
Bersyukur Fit, sudah disadarkan.
Tapi cara bersyukur terbaik adalah berbuat. Jangan lupa.

Kekhawatiran-kekhawatiran (yang Bertingkat)

Kekhawatiran tentu saja menyebalkan. Tapi ia tak berakhir begitu saja. Kekhawatiran barangkali umpama urusan yang tiada selesai. Setelah usai satu kekhawatiran, akan hadir lagi kekhawatiran lainnya. Begitu saja terus. Jadi ketika satu kehawatiran sudah terjawab, siap-siap saja, akan ada kekhawatiran lainnya yang menunggu. Seperti seorang anak yang sudah menyelesaikan kekhawatiran soal ujian nasional, lalu ia kembali khawatir dengan hasilnya, atau dengan ujian masuk SMA. Ya, mungkin saja. Seperti pasangan yang khawatir soal kapan momongan datang, lalu setelah datang, khawatir apakah mampu bisa menjadi orang tua yang baik atau tidak.
Maksudku bukan mengecilkan, tapi, nikmati saja tiada akhir kekhawatiran itu. Mungkin termsuk sunnatullah. Dan sebagaimana masalah yang membesar, kekhawatiran ungkin juga bagian dari itu, yang akan membuat kita naik kelas. Dan barangkali, khawattir juga membat sadar, bahwa diri ini perlu banyak sekali belajar, perlu banyak sekali menerima, perlu banyak sekali memberi, perlu banyak sekali memperbaiki.

-isi pikiran Sabtu beberapa pekan lalu, di jalan raya bogor, 
ketika mau menyebrang jalaan pagi-pagi pukul enam
aku, yang kemarin merinding sendiri karena hanya membatin lalu langsung Allah kabulkan
aku, yang lagi tahap merasa sedih karena pileknya dominan lagi, saat makan, saat shalat
aku, yang telah menunda banyak hal
aku, yang hari ini merasa mulai ga enak badan, khawatir kayaknya mau sakit
aku, yang membaca ulang sesuatu barusan lalu nangis entah mengapa