Sabtu, 15 Maret 2014

Percakapan

Pernah baca Bab I Buku Tuhan Maha Romantis?
Judulnya Renjana. Aku membacanya jauh sebelum memegang utuh bukunya ditanganku. Pdfnya disebarluaskan sang penulis lewat twitter. Potongan kisah yang isinya kekakuan ketika bicara satu sama lain. Memulai bicara tapi malah tercipta potingan pembicaraan yang aneh. Gagu, mereka begitu. Setelah sekian lama tidak bertemu.

Itu yang tadi mau aku bilang, tapi tidak jadi. Percakapan tadi mengingatkanku pada naskah itu. Ini aneh. Aku tahu kau juga tahu ini aneh. Tapi aku biarkan saja, mengalir apa adanya. Aku sungguh tidak mau merusak bahagia-sederhana ini buat kau. Kita sama-sama tahu bukan tujuan itulah yang ingin didapatkan dari cakap kita : bukan sesuatu yang justru lebih mudah diperoleh tanpa cakap.

Nyatanya usai cakap tanpa hasil -tentu bagimu bukan tanpa hasil- kau tidak juga menanyakannya. Terserah mau beralasan seperti apa, toh kita sama-sama tertawa dalam hati; untuk sesekali menyadari kebodohan masing-masing. Aku tahu rasanya. Sungguh tahu. Tapi aku bersyukur jika kau tidak menerka-nerka. Nanti tambah perih jadinya.

Hei, bahkan sejauh ini aku belum bertanya. Kau yang disana, apa kabar? Perlukah sama-sama bicara pada bulan den gemintang dari sudut masing-masing? Ehm, mungkin tidak, biar Tuhan yang mengarahkan. Mungkin begitu, ah...sudahlah. Usai, selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar