untuk Mentari

Rabu, 18 November 2015

Mentari,
dunia kita telah berubah banyak kini. Orang-orang lebih nyaman bicara di dunia tanpa tatap muka : melalui media. Bisa media sosial, media cetak, media online. Semua orang bergerak pada akhirnya dengan persepsi. Karena bicara lebih banyak dianggap basa basi. Padahal kita sering bukan, memerlukan klarifikasi? Agar tak salah mengerti.

Mentari,
aku tidak tahu apa yang terjadi pada dunia di masa kamu dewasa kelak. Bahkan kalau Allah menakdirkan usiaku panjang, aku tidak pernah tahu bagaimana perkembangan masa dua puluh-empat puluh tahun lagi. Semoga semua kondisi membaik dan kehidupan akan berjalan damai sebagaimana yang kita dambakan.

Mentari,
ada kala di mana aku ingin mengabaikan segala kondisi yang meresahkan hati. Barangkali aku belum pandai mengontrol emosi dan terlalu takut akan hal-hal yang belum terjadi. barangkali aku terlalu takut pada ketidaktahuan, persepsi orang, dan apa yang orang kesankan padaku. Padahal hidup adalah pilihan dan setiap kita punya hak soal itu.

Mentari,
esok lusa tidak pernah bisa kita bayangkan akan seperti apa. Pun dengan segala macam interaksi yang mungkin ada dan dicipta. Kalau hari ini kita masih suka melihat beranda teman untuk tahu apa yang sedang ia pikirkan, untuk menebak tadi itu dia kenapa sih dengan kita, dan lain sebagainya. Aku jadi berpikir dunia seperti itu malah jadi penuh prasangka. Atau sebaliknya, kalau itu baik untuk kita, dunia kita jadi penuh keingintahuan--yang tidak perlu. Dunia kita jadi penuh informasi yang tidak semuanya penting--yang mau tidak mau memenuhi memori : baik memori kepala maupun hp. Aku tidak pernah bisa membayangkan ke mana sampah informasi itu pada akhirnya berlabuh. Dan belum pernah meneliti, banyak mana antara informasi yang sia-sia atau yang manfaat.

Mentari,
pada masa depan yang belum pasti, aku harus jujur bahwa aku takut. Tapi katanya, kita memang selalu takut pada apa-apa yang belum kita tahu. Jadi untuk menghilangkannya, yang kita perlukan hanya ketahuan--atau bisa dibilang persiapan untuk tahu. Apakah begitu? kalau begitu, persiapan yang bagaimana yang harus aku lakukan? Persiapan seperti apa yang harus aku pilih? Kalau itu tidak nyaman buatku, apa aku harus tetap melakukannya.

Mentari,
terima kasih telah mendengar kalimat-kalimatku sedari tadi. Mungkin jawaban itu belum ada detik ini. Tapi aku terus menanti.

Sampai jumpa kelak, Mentari :')


18 November 2015 21.04
Tulisan sekali duduk atas segala yang memenuhi rongga kepala
atas segala perasaan yang belum usai dan lega .
keyword : ceritasiang, keluarsore :""

4 komentar:

  1. Mentari itu temannya Samudera?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, enggak tau Mal. Saya anggap teman mungkin, temennya Samudera juga boleh deh .

      Hapus
  2. mentari itu nama tengah gue, hehe.
    sampai jumpa kelak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya juga ya. jadi kepikir, lucu juga kalo ada orang kembar satunya namanya Surya, satunya namanya Mentari :)

      Hapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS