Sabtu, 05 Juli 2014

Memprioritaskan Allah

Ini tulisan untuk hari keenam Ramadhan. Kemarin, isi tulisan ini sama sekali bukan salah satu di antara topik yang sempat saya pikirkan. Tapi pada akhirnya saya menyerah pada kondisi fisik dan hati yang sudah sangat lelah. Saya tidur sepulang tarawih. Menyetel beker agar terbangun sekitar 20 menit kemudian. Dan galau akut menjelang memejamkan mata, menangis pula. Kemudian tertidur. (Merasa) Lelah mungkin membuat tidur saya jadi berkepanjangan. Tapi apa daya, bahkan kalau nggak dibangunin salah seorang Mbak kos, saya nggak dapat sahur juga pagi ini.

Saya lelah. Lelah fisik, pikiran, hati. Meski saya pun menertawakan diri sendiri atas pernyataan lelah ini. Lelah apa yang layak saya keluhkan kalau bahkan ini tidak ada apa-apanya dibanding apa-apa yang dulu dilakukan rasul dan para sahabatnya selama Ramadhan. Bahkan keharusan berperang saat Ramadhan. Dan satu hal, semua itu tidak akan bisa dilalui tanpa rasa cinta yang besar, ikhlas yang tinggi, serta keridhaan atas segala ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Allah serta janji surga sebagai jaminan abadi atas seluruh pengorbanan.

Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, prioritas macam apa yang sudah kamu berikan pada Rabbmu? Saya sadar bahwa dua hari belakangan bahkan tilawah saya tertinggal jauh dari targetan. Shalat yang cenderung tidak khusyu’, bahkan hal kecil seperti senyum (dari hati) sulit sekali dilakukan. Saya dengan egoisnya merasa bahwa saya sedang berada pada kondisi yang tidak saya harapkan. Apa yang menyenangkan daripada berada pada kondisi yang ingin segera saya akhiri (karena merasa pada akhirnya, niat kegiatan itu hanya berorientasi pada dunia), deadline yang mendadak dan harus dipenuhi seolah-olah segalanya akan selesai semudah itu, serta rasa rindu yang meletup sampai pada ujung-ujung pelupuk mata?

Maha suci Allah yang begitu mudah membolak-balikkan hati dan perasaan. Kemarin misalnya, saya merasa kesal, tetiba bahagia, semangat, pesimis, takut, dalam satu hari yang sama. Perpindahan ruang dan orang-orang yang saya temui memudahkan perpindahan perasaan itu terjadi. Saya sadar, pada semua titik, saya harus mengembalikan segalanya pada Allah. Maka kemudian pada kondisi yang ingin segera saya akhiri tadi, saya mencoba untuk mengeksplor alasan apa yang masih dapat membuat saya bersyukur pada kondisi ini. Nihil, belum ketemu. Berminggu lalu saya sudah melakukannya untuk keadaan yang sama pula, kemudian bisa terobati. Hari ini entah kenapa sulit sekali menemukannya. Apa barangkali hati saya yang terlalu keras, atau makin sulit saja melompati tembok-tembok keegoisan itu. Saya sadar, prioritas dan hal yang mendominasi kami masing-masing bukan acara ini, dan mungkin karena niat utamanya masih dunia, sulit sekali menemukan titik yang membuat saya percaya bahwa pengeluaran yang sudah terjadi itu memang layak dipertanggungjawabkan.

Tapi kalau demikian, kalau saya ingin berbaikan dengan takdir untuk mencintai proses ini, maka saya harus segera menemukannya. Setidaknya dengan demikian saya tidak rugi dengan keputusan pulang yang masih (ah Arum, kamu bikin aku sadar bahwa ini masih 2 minggu lagi T^T)…berhari-hari lagi.

Selepas acara itu saya beranjak ke mushala, ada rapat selepas ashar. Saya sudah di sana, tapi pikiran saya tidak. Saya merindukan tempat bersandar tapi entah mengapa saya tidak menemukannya. Shalat tidak membuat perasaan kunjung tenang. Mungkin ada yang salah pada shalat saya. Dan saya tidak juga menemukan bahu yang bisa saya sandari di dunia. Perasaan campur aduk tak kunjung membaik. Bahkan pada shalat pun belum juga memberi ketenangan.

Mungkin saya belum memberi ruang yang cukup untuk Allah sebagai prioritas. PR saya besar untuk kemudian mendekat lagi padaNya dan menemukan ketenangan seperti yang dijanjikannya. Menemukan keikhlasan agar saya kian maksimal dalam ibadah dan tak perlu mengharap apa-apa selain ridhaNya. Saya sesekali heran, begitu banyak orang di luar sana yang juga belum memberi ruang lebih untuk tuhannya, tapi mengapa saya melihat mereka sepertinya baik-baik saja. Apa karena saya pernah berada di lingkungan asrama di mana semua berjalan secara sistemik dan merasa hal seperti itulah yang ideal. Saya tahu sistemik berarti buatan dan realita pada kehidupan yang sesungguhnya adalah justru diri sendiri lah yang akan benar-benar punya kuasa penuh atas diri ini.

Dulu, saya setidaknya pernah mengalami di mana rapat akan benar-benar selesai maksimal setengah enam, untuk memberi ruang mempersiapkan maghrib (jika maghrib benar-benar jam enam—standar waktu Jabodetabek). Dan menjalani maghrib akan satu paket dengan isya, yang ditengah-tengahnya dapat diisi dengan makan, istirahat, ataupun membaca Quran. Jika pun kegiatan dilanjutkan lagi, maka akan dilanjutkan selepas Isya. Semua proses berjalan beriringan dan seimbang. Tanpa menerlantarkan waktu shalat dan memberi ruang untuk tilawah ataupun diskusi ringan lain. Tapi ini sistem, dan terikat atas instansi. Di luar, diri kitalah sang pemegang kendali. Banyak pilihan dan saya harus pintar-pintar bagi waktu, juga untuk memprioritaskanNya. Kalau baca postingan Mbak Yasmin yang ini, maka benar, rasanya ingin menangis. Terlalu banyak hal dunia yang masih berebut perhatian dan saya masih terlalu sibuk meladeninya. Jika saya masih belum memberi prioritas pada Allah, mau sampai kapan seperti ini? Apa siap kalau nanti dipanggil menghadapnya. Apa sudah siap?
***
 Saya ingat cerita seorang teman yang pernah diceritakannya secara langsung pada saya. Suatu hari ia bercerita pada murabbinya tentang kekecewaannya pada suatu lembaga yang ia ada di dalamnya. Jadi kadep pula. Setelah menasihati tentang meluruskan niat, MRnya bilang gini,
“Kamu tilawah aja dek, dua juz. Nanti juga hilang sendiri.”
Kemudian saya bertanya, lalu kelanjutannya gimana? Dia bilang waktu itu dia kemudian juga tilawah. Meski nggak sampai dua juz, tapi saat itu ia melebihkan bacaannya dari biasanya. “Dan habis itu….bener Fit, hilang. Rasanya jadi tenang.” Saat itu saya tersenyum, kemudian meminta izin suatu saat mengutip percakapan ini di blog saya. Dia mengizinkan.

Kalau shalat masih belum memberi ketenangan, mungkin karena di dalamnyalah kita bercakap-cakap langsung dengan Allah dan belum melakukan persiapan sebelum memulainya. Tapi bercakap-cakap juga butuh intro dan mungkin kalau dianalogikan, semacam latihan agar ‘percakapannya’ bisa lancar dan mengalir secara enak penuh ketenangan. Shalat agar khusyu salah satunya adalah dengan mendahuluinya dengan tilawah Quran, atau dzikir, atau memurajaah hafalan. Mungkin jika diintro demikian, shalatnya akan lebih khusyu, coba saja.

Wallahu a’lam bish shawwab, saya juga masih harus banyak belajar.

yang sedang menerapi diri dengan menulis.

Oh iya kalau mau mungkin juga bisa baca tulisan ini

gambar dari sini 

Kamis, 03 Juli 2014

Mencintai Surat CintaNya

Cerita hari kelima Ramadhan ini….

Saya pernah punya teman. Singkat cerita, saat SMP dia pernah khatam 5x pada Bulan Ramadhan. Begitu tahu, rasanya langsung…(ya kayak perasaan kalian pas baca ini lah ). Kenapa gitu? Soalnya jujur aja saya belum pernah khatamin Quran 5x dalam 1 bulan. Ya kalau teman-teman biasa aja bacanya, mungkin karena kalian udah pernah, dan saya…belum :”

Suatu ketika di 2012, saya dapet informasi lagi nih. Temen saya ini narget khatam 10x pada Ramadhannya. Tapi ternyata nggak sampe. Dia ‘baru’ berhasil mengkhatamkan Quran sebanyak 8x selama Ramadhan itu. 

Dan apa yang dia bilang waktu itu? “Iya nih Cuma dapet 8, aku lemah banget :(“.

Rasanya pengen banget bilang, terus gue apaaaa-_______-

Penasaran dong ya apa sih rahasianya dia bisa khatam sampai sebanyak itu hanya dalam waktu 5 bulan (aduh berasa iklan MLM yang bisa dapet uang banyak dalam waktu singkat). Akhirnya saya nanya nih. Dan…guess what, dia cuma ngasih tips kayak gini :
“yang penting Inget Target, Kejar Terus, Pinter Cari Waktu. Ntar juga biasa kok…”
Udah gitu doing tips dari dia. Simpel kan? Mungkin terkesan biasa. Ya tapi kalo kata dosen ADA (dikutip dari anonymous sih sebenernya) disoal UAS kemaren,
“the difference between the ordinary and extra-ordinary is that little extra”
Kalo kita juga udah narget, udah usaha ngejar, dan udah ngusahain cari waktu tapi belum juga nyampe barangkali emang kita belum nambahin ‘little extra’ itu tadi. Di kesempatan lain juga temen saya ini pernah bilang,
“Jangan mikir usaha kita itu udah maksimal, barangkali menurut Allah itu belum maksimal….”
***
Oh iya cerita dikit lagi. Jadi ceritanya malam ini nggak mau jadiin cerita ini sebagai topik sih. Tapi berhubung ada jarkom WA yang sangat menarik dan kalo saya pikir-pikir hari ini momennya pas. Ini jarkom WAnya, tentang bagaimana seorang ibu dengan 4 anak dan 5 kelompok binaan dapat membaca 10 juz setiap harinya....Sila dikik kalo nggak kebaca tulisannya.



Daaan karena saya abis ngeliat videonya Musa yang baru 5,5 tahun dan udah hafal 29 Juz itu rasanya… :”

Sebenarnya udah sering liat share-annya di FB dari beberapa hari lalu. Tapi berhubung saya mengasihani modem dan tadi UASnya sudah berakhir *Alhamdulillah ^_^*, kemudian sore pas masih di kampus buka FB dan salah seorang dosen ngeshare video ini, jadilah saya download dan malam ini baru aja nonton….

Ini ada juga video talkshow dengan Musa dan ayahnya...*entah kenapa dilink nggak bisa jadi sila buka disini

Allaahummarhamnaa bil Quran, ya Allah, dengan Al Quran, karuniakanlah kasih sayangMu kepada kami…

Semoga kita semua tetap cinta dan akan selalu mencintai kitab firmanNya ini, Aamiin.

Karena cinta akan meminta segalanya darimu, bukan?

Rabu, 02 Juli 2014

Mempersiapkan Ramadhan

Ini cerita hari keempat Ramadhan saya.
gambar dari sini

Terinspirasi dari obrolan habis ashar jamaah sama Mbak N, sebut saja demikian. Mbak N ini mahasiswa tingkat akhir, ya tau sendiri lah kalau mahasiswa tingkat akhir itu apa yang lagi diurusin banget :P *apalagi kalau bukan skripsi*.

Mbak N punya target wisuda Agustus. Bulat empat tahun masa kuliahnya, pokoknya begitu. Dari jauh-jauh sudah direncanakan, inginnya empat tahun. Di UGM, ada 4 periode wisuda : Februari, Mei, Agustus, November. Jelas saja karena awal masuk kuliah itu di Indonesia biasanya Agustus, ya bulat empat tahun berarti ketemu dengan Agustus lagi.

Dan Mbak N ini…sedang berjuang buat skripsinya *ayo yang lagi baca bantu doa ya biar Allah memudahkan segala prosesnya! Aamiin*. Dan batas yudisium tanggal 15 Juli. Yudisium itu menyelesaikan segala berkas buat wisuda. Urusan lab, perpus, dan segala hal lainnya (yang saya belum apal karena emang belum mau wisuda deket-deket ini :v). Perjuangan buat skripsinya sampai saat ini sedang masa pengetikan. Karena sekos, kita para anak kos tau banget mbaknya ini udah ganti judul kalau nggak salah sampai 3 kali. Cerita perjuangan lab yang gagal, cari alat dan bahan kemana-mana, motong kaca, motong bahan … *aduh lupa nama bahannya*, ngehubungin penjaga lab, dan lain-lain. Sementara teman-temannya satu per satu udah mulai pendadaran, yudisium, dan wisuda. Bahkan Februari lalu temannya udah ada 7 orang kalo nggak salah yang wisuda (emang nggak ngerti lagi sama kakak Fisika 2010 hebat banget sampe ngalahin Ilkom 2010 -_-). Ya ampun, itu pasti sakitnya…disini . . .

Dan perjuangan pengetikan skripsi demi ngejar wisuda Agustus itu jatuh pada masa-masa sekarang ini…masa-masa Ramadhan. Selepas Ashar itu kami lagi ngomongin dateng ke kajian menjelang buka di maskam.

Mbak N : “Aku tuh rencana gini Fit sehari datang, sehari enggak. Kemarin aku kesana jadi hari ini rencananya enggak. Habis kalau nggak gitu aku kapan ngerjain skripsinya. Kalau habis tarawih suka ngantuk….”

Saya : “Oh, iya juga sih Mbak. Iya Mbak semangat yaa…semoga bisa kekejar pendadaran sama yudisiumnya, aamiin…”

Mbak N : “Aku tuh baru mikir Fit, harusnya kalau skripsi itu emang bener-bener dikerjain jauh-jauh hari. “

Saya : *masih loading, nggak ngerti arah pembicaraan mau ke mana*

Mbak N : “Nih nanti kamu kira-kira skripsinya bulan apa ya? Kalau nanti Ramadhan kan maju terus, mungkin nanti udah awal-awal Juni. Nah usahain tuh Fit Mei udah selesai, kalau bisa Mei udah pendadaran juga.”

*hening sejenak, saya masih mencoba menerka arah pembicaraan*

Mbak N : “Aku tuh nyesel Fit, eh tapi kalo nyesel tanda nggak bersyukur ya? Nggak boleh sebenernya. Tapi aku tuh baru kepikiran sekarang, soalnya kalo skripsinya belum selesai sekarang kan nabrak Ramadhan, jadi nggak bisa maksimalin buat Ramadhan, ngejar skripsi soalnya…. (jeda) Tuh Fit nanti makanya kamu selesein skripsinya sebelum Ramadhan, biar bisa dimaksimalin Ramadhannya…”

Saya : *ngeh dan rasanya undescriptable* “Aaaa, iya juga ya mbak, bener, bener. Biar ibadahnya bisa fokus ya Mbak…aku juga jadi kepikiran. Jadi inget, pernah denger nggak sih Mbak, biasanya kan orang di akhir Ramadhan belanja banyak ya. Buat mudik lah, persiapan lebaran lah, dan itu juga diskon lebaran mungkin gede dan menarik. Tapi tanpa sadar sebenernya di balik itu semua kita justru boleh jadi ngorbanin 10 hari terakhir Ramadhan kita buat belanja dan nyari barang diskonan. Makanya aku pernah denger harusnya kalau mau mempersiapkan buat lebaran itu ya pas sekarang-sekarang (awal Ramadhan) aja. Bahkan kalo bisa sekalian buat belanja kebutuhan selama satu bulan Ramadhan, kecuali yang kayak lauk sama sayur yang di masak, pas sebelum Ramadhan aja, biar fokus…”

Ramadhan, kadang kita nggak nyadar kalau keutamaannya masih beriringan sama hal lain yang juga menuntut banyak perhatian dari diri kita, sehingga kita mungkin masih susah fokus untuk sepenuhnya meramadhankan diri kita. Belum sepenuhnya hadir pada tilawah Quran, di shaf pertama shalat jamaah, datang awal di kajian, dan benar-benar mengikhlaskan seluruh waktunya di sana. Kalau ngutip dari blognya Mbak Yasmin, intinya 
“Apa Allah itu bukan prioritas?” Mengenal Allah adalah prioritas hari ini. Dan mengenal Allah juga dikejar deadline...
*ah jleb banget ya T^T

Maka menjalankan Ramadhan senantiasa butuh persiapan. Bukan hanya resolusi di atas kertas mengenai capaian, tapi mempersiapkan diri juga di dalamnya adalah tentang harus bagaimana melewatinya. Melewatinya dengan amanah-amanah lain yang belum selesai ditunaikan. Karena bagaimanapun kita selalu berucap merindukan ramadhan bukan? Bukankah rindu adalah menyambutnya dengan bahagia dan jamuan special yang berbeda dari biasanya? Maka, apakah kita benar-benar merindu kedatangannya?

Kenapa kamu bisa jatuh cinta sama dia? Karena kebaikan-kebaikannya, kan? Coba nggak tahu kebaikan-kebaikannya, ya kamu nggak bakalah jatuh cinta. 
Kamu mengeluh belum bisa jatuh cinta sama Allah? Berarti kamu belum bisa merasakan kebaikan-kebaikan Allah.. Padahal, Nak. Bumi mana yang luput dari kebaikan dan cinta Allah?

 --Aa Gym, Maskam UGM --LiveStreaming 92.3 MQFM


Selasa, 01 Juli 2014

Ikut Berbahagia

Ini cerita kedua di hari ketiga Ramadhan saya.

Tadinya emang mau ceritain ini aja sih,  tapi karena pas tarawih tadi terjadi hal yang diceritain sebelumnya, yaudah deh cerita yang sebelumnya itu :3 

Sore ini saya dapat jarkoman tentang buka puasa sebuah forum keluarga yang lingkupnya universitas. Bukan, bukan ikatan alumni atau apapun yang berhubungan sama acara alumni IC di Jogja. Ini bener-bener forum yang tingkatannya UGM. *terus bayangin gedenya UGM dari ujung ke ujung*

Nah, dan hebatnya (apa sebenernya biasa aja dan saya yang norak ya--a), nomer buat konfirmasi ini nomernya Nikari :3, temen MAN saya, partner iCare saya, dan berbagai titel temen lainnya, hehe. Nah entah apa pasal, saya langsung sms Nikari. Awalnya Cuma bilang pengen nyapa setelah liat jarkoman itu aja sih, setelah dibales, baru saya bilang seneng deh lihat kekecean Nikari akhir-akhir ini, Nikari yang semangat dan tampaaaak bahagia. Diakhiri dengan kata barakallahu (bukanbarakallahulakuma, ntar salah fokus lagi :P) .FYI, dia abis dimuat di kompas dan website UGM tentang PKMnya yang bikin kain batik dengan motif jaringan manusia (biar kita semakin menghargai kehidupan :3, kece kan XD) dan abis nggak nyangka gitu Nikari keren banget di forum lingkup se UGM ini. Bantu promosi deh, liat page FB Kumahargyan Batik

Kenapa saya bilang demikian?
Soalnya saya sempat ada bareng Nikari waktu pikiran dia lagi crowded banget Sabtu beberapa pekan lalu. Sampai nggak konsen ngendarain motor dan negara api menyerang perjalanan kami (maksud negara api itu suatu kejadian yang diskip aja sebaiknya). Ngeliat Nikari yang biasanya heboh dan ceria saat itu banyak pikiran bahkan sampai nggak kuat lagi nahan semuanya sampai tertumpah air mata itu rasanya… :” saya ikutan nggak tenang.

Tapi demi ngeliat segala kekecean ini, saya benar-benar ikut bahagia.

Terus saya jadi inget 10 Juni lalu, saat pengumuman PPSDMS. Waktu itu, Alhamdulillah banyak sekali teman, kakak dan adik tingkat yang ucapin selamat. Bahkan rasanya sampai saya lebih bahagia dengan perhatian-perhatian kecil mereka dibanding berita lolos ini. Subhanallah, harus banyak bersyukur ya, ada teman-teman yang baik di sekitar kita, yang turut berbahagia dengan berita baik yang kita dapatkan :’)

Perumpamaan orang yang beriman dalam cinta dan kasih sayang sesama mereka adalah bagaikan satu tubuh yang bila salah satu anggota tubuh mengeluh sakit maka seluruh anggota tubuh yang lain tidak dapat tidur dan selalu merasa panas”. (HR. Muslim)

Karena lewat teman yang baik dan ikut berbahagia itu…adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah pada kita :’) Maka senantiasa bersyukurlah, agar kebaikan teman itu mengingatkan kita padaNya serta mendekatkan kita padaNya. Ah iya, jadi ingat, katanya kalau mau menilai seseorang itu salah satu caranya adalah melihat siapa orang-orang di sekelilingnya (maksudnya tentu dengan siapa ia bergaul). Yuk kita perbanyak lingkaran dengan orang-orang shalih di sekitar kita. Btw, shalih itu artinya baik, lho, jadi maksudnya tentu saja perbanyak lingkaran dengan orang-orang baik di sekitar kita ;)

Selamat membangun tali ukhuwah ! *aduh jadi pengen baca buku Dalam Dekapan Ukhuwahnya Ustadz Salim A. Fillah…#Kripto dan ADA dulu Fit, inget besok masih ujian :P


Salam seribu senyum J

Bisa atau Mau?

Ini cerita hari ketiga Ramadhan saya.

Ada dua hal yang pengen sedikit diceritain hari ini, biar (agak) fokus, dipisah aja ya postingannya :3

Seperti malam sebelumnya, kami (pasukan kosan) shalat tarawih (kalo nyebut shalat tarawih, tentu satu set sama shalat isya serta witirnya) di masjid dekat kosan. Setelah shalat isya menjelang khutbah, kotak amal diedarkan. Saat sampai di tempat kami, Mbak Kos (sebut saja begitu), ngajak berbincang sedikit.

Mbak Kos : Kapan ya Fit, kita bias masukin uang seratus ribu gitu ke sini…(sambil masukin uang infaknya)
Saya : Kalau masukin mah bisa aja mbak, masalahnya mau apa nggak (sebenernya saya ngerti sih maksud mbaknya ini kata bisa itu semacam berat dan masih susah buat kita)
Mbak Kos : (Masih belum ngeh kata-kata saya tadi) Belum bisa Fit…
Saya : Kalau masukin kan gampang kan Mbak? Kita kalau punya uang seratus ribu ya udah tinggal masukin aja kan? Masalahnya ya itu, mau apa enggak…
Mbak Kos : Iya Fit…tapi rasanya berat….

Percakapan kami terhenti di situ. Saya ngomong kaya gitu mungkin keliatan sok bijak atau gimana. Percayalah bahwa, saya juga merasakan hal yang sama. Sebagian besar kita, apalagi mahasiswa belum berpenghasilan (ini aja saya berbincang sama Mbak Kos yang udah berpenghasilan) kemungkinan besar akan merasa berat untuk menginfakkan uang berangka nol lima buah itu. Ada banyak hal yang harus dipenuhi, semisal urusan perut, perkakas kebutuhan kuliah, iuran ini itu, dan lain sebagainya. Masalah bisa dan mau, saya hanya meniru apa yang pernah saya dengar. Bahwa seringkali, permasalahannya bukan antara bisa atau tidak, tapi mau atau tidak. Hal yang masih juga saya pelajari untuk diterapkan.

Ini baru bicara soal infak dan materi yang terlihat sekali betapa dibutuhkannya di dunia. Padahal kalau pernah denger suatu quote dalam video ini 

“Being rich is not about how much you have, but how much you can give”
*huaa ini videonya bikin nangis bangetT^T*

Dalam agama pun kita tahu bahwa yang abadi adalah amalan-amalan kita. Apa yang kita infakkan dengan keikhlasan, bukan harta benda yang pernah dimiliki di dunia. Ini bukan berarti kita nggak boleh merhatiin kebutuhan hidup. Ya ini juga harus, nanti zalim sama diri sendiri. Memenuhi hak-hak diri kan juga wajib :) Dan meninggalkan yang wajib itu dosa. Jadi tetap harus diperhatikan. Berarti persoalannya adalah bagaimana kita bisa memenuhi hak-hak tubuh sebagai pemenuhan kewajiban terhadap nikmat tubuh yang sudah Allah beri, namun tetap bisa menyisihkan untuk tetap berinfak di jalanNya. Sudah bisa sedikit-sedikit saat ini? Alhamdulillah. Kemudian, saat ini kita belajar untuk dapat berinfak lebih banyak lagi.

Bisa dan mau juga aplikasinya banyak banget di sendi kehidupan ini. Semisal ngambil amanah-amanah penting, menantang diri sendiri buat apply beasiswa atau exchange atau nyoba ikut conference, bahkan menghafal firman-firman Allah di Al Quran. Sekali lagi, pertanyaannya kita mau alasan nggak bisa atau nggak mau? Kalo kata buku sidu di bagian bawah biasanya
"Where there is a will, there is a way"
*yaampun ini saya sampe apal tanpa liat bukunya, Pernah liat juga kan?*

Jadi, kita ini nggak bisa atau nggak mau?


Yuk belajar bersama! Semangat :))