Kesalehan Sosial

Selasa, 07 Juni 2016

Ada kesalehan yang seharusnya juga menjadi harapan kita semua. Namanya kesalehan sosial. Saleh yang bukan diri kita sendiri. Saleh yang bukan kita dan lingkaran-lingkaran di sekitar kita. Tapi saleh yang menyentuh semua dimensi dan lapisan masyarakat.

Kita tentunya menginginkan lingkungan yang kondusif. Yang masyarakatnya saling percaya, jujur, santun, sopan, saling menghormati dan menghargai, disiplin, jujur, menepati janji. Dan masih banyak lagi. Sekali lagi, di semua dimensi. Di semua lingkaran yang kita punya.

Betapa terkejutnya saya ketika suatu waktu saya meminta maaf telat rapat lalu dibalas, tidak apapa, yang lain juga pada belum datang. Betapa budaya telat pada akhirnya menjadi pemakluman. Akibatnya, kita sering sengaja mempublikasi jam kumpul atau jam mulai acara setengah jam atau satu jam lebih awal karena cap karet sudah tertempel dengan masyarakat kita. Padahal, apa sulitnya bilang tidak bisa kalau memang tidak bisa hadir. Apa sulitnya bilang izin telat diawal kalau memang kita tahu jarak acara sebelumnya ditambah perjalanan tidak akan memenuhi titel datang tepat waktu.

Hari ini, tulisan ini terilhami oleh mirisnya saya ketika sepulang dari maskam bakda buka puasa, sepanjang jalan olahraga yang biasa dipakai pasar kaget sunday morning sampai jalan bawah dekat pom bensin masih ramai oleh manusia. Ramai jajan dan memuaskan keinginan perut dan mata. Orang-orang makan sambil duduk dan berdiri. Orang-orang duduk di tepian jalan dan bahkan batas tengah antar ruas jalan. Parkiran ramai betul. Yang diuntungkan bukan hanya pedagang takjil, tapi juga para penjaga parkir. Pengemudi kendaraan mengantri sepanjang jalan karena padatnya jalan membuat susah dilalui. Orang-orang masih bercanda tawa sementara sisa waktu magrib kian menipis. Bukan hanya pembelinya, juga pedagangnya, apa mereka sudah shalat magrib?

Masjid-masjid kita mungkin penuh dengan kajian menjelang buka puasa. Penuh dengan derma orang yang menjelma jadi sajian berbuka, bisa sekadar kurma, minuman berasa, bahkan santap makan malam. Tapi jalanan juga penuh dengan manusia, yang keluar ngabuburit hunting jajanan dan-katanya-kebersamaan. Yang semoga tidiak lupa setelah buka kita masih punya kewajiban shalat magrib yang terbatasi oleh waktu.

Saya jadi teringat salah satu kajian. Pembicaranya bilang begini :
Ramadhan itu, apakah akan sekadar menjadi perbaikan ketaqwaan pribadi, atau perbaikan hakiki pada setiap dimensi?
Semoga dimanapun kita berada kita bisa jadi agen yang turut mewujudkan kesalehan sosial di sekitar kita. Aamiin.

8 komentar:

  1. Balasan
    1. pengingat buat diri sendiri juga zah,
      btw kamu mesti liat jalanan sunmor bakda magrib ramenya kayak apa zzz

      Hapus
    2. Belum lama aku baca status orang yg bilang UGM jahat banget ngelarang orang jualan dg dalih tidak kondusif. Tp melihat lembah skrg, saya jadi pro rektorat nih

      Hapus
    3. untuk suatu kebijakan emang akan perlu banyakpertimbangan zah.dan pemahaman kurang menyeluruh itulah yang membuat titik temu sulit sekali terjadi. mungkin sih ya :v

      Hapus
  2. https://twitter.com/search?f=tweets&vertical=default&q=devilukita%20shalat%20pedagang&src=typd

    Tahun 2013 aku juga mikir gitu waktu pertama kali tau ada pasar sore Ramadhan di UGM, Fit.
    Sedih sungguh :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya deev, empat taun di Jogja aku baru ngeh kemarin..

      Hapus
  3. Harusnya jadi Mas Yudi, Fit. Hahaha XD

    BalasHapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS