Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Sabtu Bersama Bapak. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Sabtu Bersama Bapak. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 April 2016

Membaca : Sabtu Bersama Bapak


Barangkali kanker bisa memisahkan Pak Gunawan dengan anak-anaknya. Tapi, Ia memilih untuk tetap ada dan membersamai tumbuh kembang anak-anaknya, tetap ada dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka sejauh mereka tumbuh, bahkan hingga kelak dewasa. 


Ada Sabtu yang selalu menjadi alasan bagi Satya dan Cakra untuk ada di rumah. Setiap sore, melihat pesan-pesan dalam video Bapak. Pesan yang terus mereka jadikan referensi bahkan ketika kelak sudah berkeluarga. Hal-hal yang ingin Bapak ajarkan ada di dalam sana. Pelajaran hidup, pelajaran masa kanak-kanak, pelajaran ketika ada pada umur dan fase tertentu, bahkan ketika kelak mereka sudah berkeluarga.

Setiap anak berhak atas kasih sayang orang tuanya. Maka kenapa Umar menyebutkan bahwa tiga hak anak yang harus ia dapatkan adalah ayahnya memilih ibu yang baik, diberi nama yang baik, dand iajari Al Quran. Poin pertama, kesadaran ayah memilih ibu yang baik sakan bermuara pada baiknya pemahaman orang tua akan pengasuhan anaknya. Dan pada cerita ini, dengan cerdas Pak Gunawan yang sadar bahwa hidupnya akan kurang lebih satu tahun lagi, meniakan satu tahun itu sebagai satu tahun terbaik dalam hidupnya. Dan kemudian ia membuat video-video yang akan menjadi teman tumbuh kembang anak-anaknya. Video yang kelak akan menjawab pertanyaan anak-anaknya seiring waktu mereka bertambah dewasa. 


sedikit kutipan :
 "Kata Bapak, mmebangunn hubungan butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan saling mengisi kelemahan."
"Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing. Bukan tanggung jawab orang lain."

Sabtu Bersama Bapak,
buru-buru beli karena mau difilmin (dan nggak pernah suka kalo cover buku diganti cover film)
padahal taun lalu sempet beli buat hadiah...

Selasa, 21 Mei 2019

Racau Malam Hari, Membaca Kembali, Menulis, Sabtu Bersama Bapak

menemukan gambar ini, di sela-sela pencarian akan sesuatu. tertanggal 3 april 2016, tanggal yang sama tiga tahun kemudian, ada file yang dikirim, dan baru saya baca tadi pagi, karena penerimanya lupa meneruskan. tapi tidak apa-apa.

kenapa pengen pos? ga kenapa-napa. dan bukan karena kebetulan sama tanggalnya. saya nyadar sama juga pas udah mau upload. saya jadi mengenang buku ini. salah satu buku yang baik untuk dibaca. Sabtu Bersama Bapak. Sebelumnya, saya pernah pos di sini, beserta pesan yang amat manis yang saya tulis kembali di bagian akhir. karena fotonya sangat terbatas, dengan hp sekenan dari abi, yang sebenarnya dulunya juga abi beli seken di 2011 (jadi da akunya mah pengguna ketiga kayaknya). buram, sulit dibaca, tapi masih menyimpan kenangan.

Filmnya udah ada. tapi hasil ngobrolin sama Abidah, saya yang belum pernah nonton filmnya menyimpulkan bagusan bukunya daripada film. Karena ada part yang saya ingat namun tidak ada di film, kata Abidah yang sudah nonton tapi belum baca. Jadi dak lengkap. Saya ada bukunya kalau mau pinjam.

omong-omong kenangan, terkait file yang baru tadi pagi saya baca itu. Sempat menyebut blog saya. lantas tadi siang saya pergi ke blog saya di Maret 2019, sekiaran tulisan itu dikirim.

Waktu berlalu, Maret ke Mei baru berjeda sejenak. Tapi kadang saya jadi bisa mengingat kembali perasaan-perasaan yang ada lewat tulisan. Ada tulisan tentang keberkahan waktu yang akhirnya muncul juga di Mei ini. tulisan interaksi dengan Alquran yang belum ada. Dan tulisan-tulisan lain. Yang saya ingat perasaannya. Harapnya, cemasnya, ingin ikut berjuangnya, rindunya, momen dngerin ust Hanan Attakinya, dan lain sebagainya.

Tulisan tadi juga membuat saya membuka kembai file yang pernah saya tulis sebelumnya yang membuat dokumen yang lupa diforward itu ada. Lalu mengingat file lain sebelumnya. Takjub dengan hal-hal yang saya tulis sendiri.

Setiap tulisan menyimpan informasi. Satu dua menyimpan harapan besar.
Momen waktu kita, atau baiklah, diri ini membaca, tentu punya kesan tersendiri. Kemudian setelah jeda lama, mungkin sudah lupa lagi.
Jadi berpikir, ada baiknya, meluangkan waktu, untuk membaca kembali apa yang pernah dituliskan. Sendiri atau bersama, umpama target-target kuartal kantor. Agar ingat kembali, ke mana harapan pernah dibawa, dan ditambatkan, untuk mengejar ridha yang kuasa. Dengan cara apa, yang sempat dicanangkan masing-masing, untuk diwujudkan, sendiri atau bersama-sama.
Benar-benar merasa perlu, membaca kembali sesuatu yang barangkali sudah dilupa. Agar diri ini ingat, berpikir sebab akibat dan serius itu memang perlu. #ntms

***

Tadi pulang kepikir, kenapa ya aku suka sekali menulis hal-hal. Walau yang gini-gini aja. Sekedar racau atau coretan.
Dulu jaman sekolah aku punya buku harian. Ada sampai aliyah walau waktu SD ga sering diisi, SMP awal lumayan, lalu jarang karena surat-suratan sama kaka kelas kali ya wkwkwk (cewek kok, uwe kan smp cewe semua), dan aliyah, apalagi menjelang akhir, deras sekali tinta pulpennya. Tidak ada laptop yang kubawa, dan menjadi i dengan sulit memulai cerita, sekaligus menjadi orang yang suka mengenang, butuh media menuangkan isi kepalanya. Kadang nulis blog juga sih kalau dapat komputer perpus atau labsis yang berinternet. Atau saat libur reguler maupun panjang.
Lepas aliyah, pegang laptop. Nulis di buku ujungnya ketiduran. Akhirnya jadi lari ke blog kembali. Walau kalau di blog emang ga bisa se ga disaring buku harian ya. Namun setidaknya, membantu melegakan. Dan membantu mengingat banyak hal, termasuk perasaan saat mengalami a b c kehidupan. Cuman ya gitu, kadang kasihan yang baca, kalau ada itu juga.
Jadi intinya mah blog ini emang bukan dibuat untuk menginspirasi. Meski jika kamu sudah terlanjur mampir, semoga ada manfaat yang bisa diambil.

Salam, Fitri
Hari ini nggak ada masalah berarti alhamdulillah
namun rupanya aku masih kalah
sama pertanyaan di ujung jari yang membuat aku bolak balik dan berpikir berlebihan
sama pertanyaan nyebelin sok-sok minta cerita
sama diri ini yang manja sama diri sendiri.
.
Terima kasih Allah



Rabu, 04 Mei 2016

Nonton Pagi Ini dan Parenting

Saya ngga sengaja nonton Indonesia Morning Show di Net.TV pagi ini selepas nyalamin adek sekolah dan Ummi yang pergi beli nasi kuning. Tertegun dan amaze dengan paparan Bu Elly Risman tentang usia yang terlalu dini bagi anak untuk masuk sekolah. Sayang, ngga ngikutin dari awal *nyesel*. Saya jadi tau bahwa usia ideal masuk SD sebenernya tujuh tahun(an). Sebelum itu, adalah waktu terbaik untuk main bersama ayah-ibunya. Jangan mikir fasilitas, karena tubuh ibu adalah fasilitas terbaik. Kita bisa bercerita dengan memperagakan bentuk tubuh. Fasilitas juga adalah sesuatu yang dibuat bersama-sama, tidak mesti berupa benda yang dimiliki dan sudah jadi bagaimana rupanya.

Masa kecil anak bisa hilang. Mungkin kita nggak nyadar efek waktu dininya. Tapi di masa depan, efek ini boleh jadi terasa. Kita bisa ngeliat berapa banyak anak-anak yang sudah dewasa tapi masih kayak anak-anak. See? *terus si pembawa acara ngangguk-ngangguk (dan saya reflek iri sama pembawa acara karena dia tiap pagi dapet ilmu baru dari acara kayak gini hehe). Iya yah, banyak orang yang udah gede tapi sifatnya kayak anak-anak. Yang belum serius dalam dunia profesionalnya lah, bahkan juga yang kalo ngamuk kayak mana. Bahkan orang di struktur yang cukup tinggi di pekerjaannya (bahkan struktur kenegaraan -yang tadi sempat disebut), juga ada yang sifatnya masih kayak anak-anak. Bu Elly bilang, bisa jadi masa kanak-kanaknya itu ada yang hilang. Tercuri. Dan tidak ada yang bisa mengganti masa kanak-kanak.

Tadi juga dibahas soal keteraturan dalam bermain, empati yang lebih penting diasah pada usia 0-8 dibanding kognitif, dan lain sebagainya.

Banyak banget ya yang belum diketahui soal parenting. Ini penting karena menyiapkan generasi masa depan, yang juga berarti menyiapkan generasi bagi agama dan bangsa. Pengen cari videonya nanti kalo udah ada. Bahkan juga video-video Bu Elly Risman yang lain.

Jadi inget diskusi novel Sabtu Bersama Bapak sama diskusi pagi hari sama Ummi kemarin :")

di antara sekian banyak hal terlintas yang pengen ditulis,
malah ini yang beneran ditulis (padahal mah reflek)

Rumah, 7.29
sore nanti mangkat NLC :"

Minggu, 24 Juni 2018

Dari Tangerang (2): Di Perjalanan Pulang

Semua Ikan di Langit-Ziggy Z.-hlm 141
Saya membaca halaman ini di pada suatu perjalanan kereta pulang dari pernikahan Suci. Yang membuat saya memikirkan beberapa hal. Terutama setelah membaca paragraf kedua (lalu tergerak untuk menangkap gambarnya).

Ah, tidak. Saya tidak akan membahas apa yang saya pikirkan.
***
Jeda beberapa jenak, dua undangan masuk pada menit yang sama. Dua adik asrama. Yang satu pernah seruang, yang akan menikah juga dengan teman asrama di gedung putra. Yang satu lanjut hingga jadi teman sekontrakan pasca asrama. Tanggal menikahnya pun sama. (Sebelumnya udah diomongin sama teman seperjalanan pulang, benar lagi ada undangan, dedek-dedek semua *maksudnya anak 2013)

Aku (yang masih sulit meyakinkan diri untuk memulai jenjang hidup baru ini) jadi menghubung-hubungkan kalimat di paragraf itu dengan kabar dua kawanku yang menyebar undangan ini (tiga bahkan, karena salah satunya menikah dengan teman kami juga). Pertanyaan saya selalu sama setiap mendapatkan undangan pernikahan. Apa yang membuat seseorang merasa mantap dan yakin untuk berjalan menuju jenjang pernikahan? Titik apa, saya bertanya-tanya. Ini juga yang saya tanyakan pada Suci tempo hari saat saya meneleponnya lama.

Dalam perjalanan menuliskan ini, aku membaca sebuah blog yang menuliskan bahwa ia tak mau menikah untuk bahagia jika ia belum bisa membahagiakan dirinya sendiri. Jadi, penulisnya simpulkan, kalau menikah untuk bahagia, sebaiknya jangan menikah dulu. Karena kebahagiaan pernikahan hanya temporer dan jika belum bahagia, pasangan dan anak-anaknya kelak bisa jadi korban ketidak bahagiaannya.

Waktu saya membaca kutipan di buku itu, saya belum meneukan kutipan paragraf yang saya kutip dari blog orang lain itu. Dan saya hanya menuliskan saja sih, bukan dalam rangka menyetujui sepenuhnya. Meski mungkin make sense juga. Tapi saya jadi ingat kata-kata di Sabtu Bersama Bapak yang saya amini sampai saat ini.  "Kata Bapak, membangunn hubungan butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan saling mengisi kelemahan."
.
"Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing. Bukan tanggung jawab orang lain."
***
Hari ini dan kemarin-kemarinnya barangkali saya menemukan dan mengetahui jawaban orang lain. Lalu saya berjanji pada diri sendiri, kelak kamu akan menemukannya, Fitri. Jangan  terburu-buru, jangan berputus asa.

22 Juni 2018
Kereta Angke-Nambo
dalam beberapa hal yang membenak


Sabtu, 30 Agustus 2014

Wishlist

sedang tertarik baca buku ini :"

[img:Sabtu Bersama Bapak]

sumber gambar dari sini. Penasaran sama isinya bisa liat celoteh orang-orang di sini.

Minggu, 03 April 2016

Perhiasan Dunia Akhirat

"Terima saya, jika kamu lihat bahwa saya adalah perhiasan dunia dan akhirat yang baik untuk kamu."
"..."
"Karena...
kamu adalah perhiasan dunia akhirat untuk saya."
-Sabtu Bersama Bapak, p.174

yang akhirnya case closed di halaman 229. Suka banget sama halaman ini entah kenapa :"


Sabtu, 06 April 2019

Halo: Tentang Sepekan Terakhir

lama juga ya ngga nulis curhat gitu, gatau rasanya sedang malas sekali menulis. iya, malas aja gitu.

cerita-cerita saja ya
jumat lalu ke klaten, lewat halim. dadakan, menurutku. membuatku panik sendiri karena kerjaan konten belum selesai, lalu belum rekap peserta acara yang aku pjnya heuheu. belum mikir siapa yang jaga perpus. lalu di perjalanan cukup mengenang banyak hal, soal keberangkatan, soal bandara. soal obrolan, soal kejadian. terakhir naik pesawat lewat halim, susulan mudik yang juga banyak perubahan mendadaknya. jadinya sendiri, berangkat h-1. banyak cerita panjang, lalu concall small group, lalu sampai jogja dan terjaga sampai pukul satu. bicara jogja dan bandara, aku ingat berangkat kkn, berangkat ke jepang, lau juga saat menjemput dan mengantar umak bapak kkn yang ke jogja untuk wisuda anaknya di purwokerto.

tempat tidak pernah sekedar tempat. ia juga menyimpan banyak kenangan.

sampe jogja, langitnya jernih, bintangnya banyak. menyenangkan.

ke klaten. inget nana. inget nikahan pertama ilkom 12, yang sesama ilkom 12 di klaten. waktu itu temen kuliah masih banyak di jogja. meski udah pada wisuda. Inget konsep nikahan piring terbangnya solo.

sabtu. acara di balai desa. ketemu temen rk secara tak sengaja. inget kkn gegara acaranya di kantor desa. menjadi fasilitator. kagum dengan semangat abidah yang dia sebenernya lagi sakit, tapi masih bisa memberi banyak pada orang lain. pulangnya...ternyata lelah banget menjadi fasil separuh hari, mungkin ditambah ruangan kelas pelathan yang kurang kondusif sehingga mempercepat lelah. pulang. kalut sendiri karena penasaran. tapi yaudah. mungkin ga baik juga memburu-buru sesuatu.

ahad, acara remaja. ngeliat beberapa testimoni Nabi Muhammad dari tokoh-tokoh yang bukan muslim. lalu malu sendiri. malu juga karena merasa ga optimal. tau temen selingkaran mau nikah setelah sebelumnya ada juga januari :") datang ke kantor mengejar daftaar isi buku ramadhan dan naskah buat apply ke litara. menyelesaikannya di rumah. lagi ada shortcourse. ketemu temen siaware yang kutak menyangka dia ikutan shortcourse.
lalu yang warbbiasa juga. ngobrol sama seorang kakak yang udah deket hari nikahannya (terus kata beiau, iya fit tadi aku juga ditanyain, gimana rasanya, udah dua minggu lagi terus aku baru nyadar wah iya juga ya tinggal 2 pekan lagi)). Selain aku tanya sala kendala apa enuju hari H nya (katanya kan menuju hari H suka anyak godaan), yang sebelumnya pernah terobrolkan lalu kepotong, aku nanya juga, gimana kak rasanya sekarang?
Katanya:
"Rasanya tenang Fit."
"Wah kok bisa kak?" kutanya demikian, tak percaya.
"Iya Fit kayaknya dari Allah deh.
Heuheuheu haru deh dengernya, sampe kubilang, kak aku perlu catat ini kak. :")
Kakak ini dan calonnya pasti dah melewati banyak sekali tahapan yang sampai mempertemukan mereka kedua pada kata sepakat. Waktu aku tanya berapa lama sih kak prosesnya, si kakak bilang tiga minggu dari awal iya proses sampai netepin tanggal. Kelihatannya mudah, tapi aku yakin proses mereka melalui tahapana dengan sebeum-sebelumnya sampai yang ini tentu telah mendewasakan dan empersiapkan mereka jadi diri mereka yang sekarang. Barakallah ya kakak kakak :")


senin aku nonton video ini yang kudapat kemarin ahad dari tumblr jagungrebus. backsoundnya bikin haru dan pengen nangis gitu heu.


Lalu juga membahas ulang tahun. Jadi seorang kakak istrinya besoknya ulang tahun. Lalu nanya usulan kado. Salah seorang bilang, saya ga ngerayain ulang tahun. Kata kakaknya saya juga sih, cuma takut salah. Saya ketawa aja hehe. Saya tau kakaknya pasti mau ngasih yang terbaik buat istrinya. Aku pernah mikir, kayaknya soal ulang tahun itu kalo dah nikah perlu diobrolin dan disepakati bareng deh, mau ngejadiin momen ulang tahun momen yang gimana disikapinya di keluarga, karena nanti ngefek juga sih kayaknya ke anak-anak dan satu sama lain. Kayaknya yaaaa....

selasa kureview meeting dan membahas kemungkinan proyekan. Sebelum review meeting, kudiberi kabar naskahku ditolak. Dan kukira aku bakal biasa aja kalo fitolak. Ternyata dapet kabar naskah ga lolos seleksi menjelang review meeting itu sesuatu :"""" asa hampir nangis gitu aku pas set up setbup buat review. Reviewnya juga kurang lancar dan kurang persiapan akunya. Oh ya, hari ini pas dapet kabar ditolak juga bertepatan dengan hari buku anak internasional. MasyaAllah ya bisa pas gitu :") 2 april. Memang perlu banyak belajar lagi fittt :')

rabu tanggal merah. mengerjakan buku ramadhan dari rumah. ada jalan sehat di rw.
ini sebenernya pengen bikin postingan baru sih. tapi sini aja deh. judulnya....

Wondering
Sejak aku kuliah dan ke rumah bude-bude di Magelang, atau ketemu kakak sepupu yang udah punya anaka, atau keluarga lainnya (dulu aku pernah cerita di postingan 31 des 18 atau 1 jan 19 *males cari link), aku suka kepikir, anak-anak ini gimana ya diutmbuhkan di keluarganya. Kakak sepupuku gimana ya mendidikya. Atau apa aja ya yang udah jadi perjuangan mereka. Kalo lihat anak yang udah dibiasain kerudungan sejak kecil sama yang kalo kumpul pakenya baju pesta, aku mikir, mesti beda pendekatan pendidikannya di rumah, dsb dsb gitu deh. Ramai isi kepalaku kalo ketemu orang-orang itu.
Dan ternyata wondering ini berlanjut sampe ke mana-mana
Di jalan, waktu itu naik motor boncengin ummi. Pas papasan sama sepasang suami istri boncengan, aku bisa mikir, pasangan ini udah menghadapi apa aja ya selama menikah, mereka lagi seneng apa biasa aja ya boncengaan bareng, anak-anaknya gimana ya. Padahal gak kenal. Sama sekali.
Terus pas jalan sehat RW kemarin, ketemu ibu-ibu. Karena kumenempel ke Ummi, jadi ikut satu dua ngobrol ama ibu-ibu atau ya ikutan senyum aja. Atau hanya dari sekedar ngamain wajah ibu-ibu yang aku tau dari jaman aku kecil. Lalu aku wondering gitu, ibu-ibu ini mesti dulu juga seumuran aku. Gimana ya cerita mereka waktu fase-fase remaja. Waktu fase menjelang mereka menikah. Waktu awal-awal adaptasi. Waktu awal-awal menikah. Gimana ya perasaanya waktu anak-anaknya, temen main kecilku dulu, udah pada kuliah dan bekerja. Gimana ya perjuangan mereka dalam segala hal kehidupan rumah tangga. Lah aku sendiri bingung kenapa aku wonderingnya kek gitu ya. Hahaha.
Yaudah karena cuplikan aja takusah berkonklusi ya.

1. fatih nungguin doorprize dipanggil samping bapak ustad (dan suka diajak ngobrol)
2. antusiasme anak2 dapet doorprize 3. fatih dengan 4 kupon doorprize 4. abi minum duduk :")


Kamis, Rapat kuartal. Aku kangen este ngomongin target kuartal dan turunannya. Kangen. Kangen ambiencenya meskipun aku juga gamau ngulang. Tapi itu bener-bener pembelajaran berharga. Pengen dapet ambiencenya lagi. Semoga bisa mewujudkan biar aku galak ama diriku sendiri. Biar impian segera terwujud.

aku yang suda mengantuk semalam,
lalu sedih ketiduran dengan
pikiran-pikiran yg belum selesai :"(
Jumat. Aku pulang cepat. Dengan membawa banyak pikiran sampai aku udah niat dan sadar melewati jalan berbeda biar bisa isi bensin, tapi aku kelewat juga. Baru sadar waktu udah seperempat atau sepertiga perjalanan gitu. Heu, bisa-bisanya pikiran kemana-mana jadi lupa.. Alhamdulillah masih bisa jalan motornya. Malamnya ambil jahitan tapi tidak sesuai plan awal :"( lalu tiba-tiba mengantuk dan mesti melanjutkan cutting konten. konferens call bersama pejuang desain fillah.
oiya hari ini sebagai peneman kerja aku ga sengaja (atau tadi kenext gitu ya) denger kajian teh haneen akira istrinya ust. hanan attaki. tadinya mah niat dengerin hanan attaki aja. lalu karena males dan nanti jadi lama nyari man ayg mau didenger, jadi kupasrah aja dengerin itu. teh haneen bahas doa minta jodoh hampir 1,5 jam coba. tadinya aku heran kok bisa doa dibahasnya selama itu. Tapi ternyata emang banyak banget komponenya. mangga disimak di sini kalo mau. oiya hari ini juga lumayan banyak cerita-cerita sama kak citra.


Sabtu di Badr. Masih dengan banyak pertanyaan di kepala yang cukup mengganggu fokus dua pertemuan hari ini dan kayaknya udah perlu diberi batas cukup sih, kalo kata Abi beberapa waktu lalu. Menjadi sie bantu-bantu jadi rupanya dak terlalu in charge. Bisa menulis blog deh.
Tadi ke nikahan temen SD. Temen SD keempat yang menikah dalam dua bulan terakhir. Ada cerita setiap datang ke 3 nikahan teman SD dua bulan terakhir ini. Datang ke nikahan Tria dengan perasaan yang gatau kenapa aku pengen nangis itu. Ketemu temen SD  hits yang nanya kenapa aku gadatang ke nikahannya (aku gatau undangannya). Ketemu guru-guru yang lama ga ketemu dan mereka nanya, Fitri datang sama siapa? Kujawab dengan senyum, sama motor Bu... Tadinya kumau daang sama Ummi soalnya, tapi gajadi. Nikahan Erika, pertanyaanya bukan kapan nyusul kayak yang menstrim biasanya. Saking lamanya gaketemu sama guru-guru yang ke nikahan Erika, pertanyaanya, kamu udah nikah belum? wkwk itu lucu sih, karena yang ditanya bukan kayak biasanya dan mungkin saking lamanya ga datang ke SD jadi gaketauan kabarnya. Nikahan Kautsar tadi hmm apa ya. Baru tadi tapi lupa. Oiya beliau anak kepala sekolahku dulu. Nikahan ini mengingatkanku pada ingatan kelas 1 atau 2 gitu *bayanginlhoingatankecilituakumasihingatcckck, lalu ingat waktu sunatan hari sekolah jadi ke rumahnya kayaknya kita pada pake seragam. Oh iya tadi ketemu Bu Tini juga. Dulu aku inget Bu Tini habis lahiran, sekarang anaknya sudah SMA kelas 3 coba :") . Bu Tini juga ngga nanya soal nikah, nanyanya udah kerja berapa lama. Ketemu guru lain juga yang nanyanya Fitri sekarang di mana. Kubilang di rumah, kalo mereka terlihat bingung, baru kutambahkan, kerja di Depok.

selamat menjemput ahad dan pekan depan. semoga Allah selalu menguatkan :")