Adalah Kita (1)

Kamis, 05 Juni 2014

Adalah kita, manusia-manusia yang suka sekali membuat kenangan. Menulis, berfoto, membuat identitas bersama. Saling memberi hadiah, bertukar senyum, saling bercerita menghabiskan waktu berdua, bertiga, atau entah berapa banyak lainnya. Berkumpul, makan bareng, rame bareng, bahkan petak umpet bareng :'). Tertawa, bahagia.

Adalah kita, manusia-manusia yang suka sekali mengenang. Hei, kalau dipikir, bukankah itu agak bodoh? Terkadang, kita membiarkan diri kita terbelenggu pada perasaan rindu. Atas hadirnya kamu, kalian, kita semua, dan pojok-pojok tempat dulu kita menghabiskan waktu bersama. Padahal kita sama-sama tahu bahwa waktu tidak pernah berputar dan rindu hanya akan membuat jarak semakin terasa jauh. Tapi, itulah kita : manusia-manusia yang suka sekali mengenang.

Barangkali kita memang bukan manusia sempurna yang terkadang masih saja mengeluh bilang rindu. Yang masih saja suka terngiang tentang kabar teman-teman di seberang. Yang masih saja suka membicarakan kisah konyol selama tiga tahun di bangunan asrama. Ya, barangkali kita bukan manusia sempurna yang begitu mudah mengelola perasaan rindu itu.

Barangkali inilah kita, yang selalu saja mengenang tanggal-tanggal bersejarah yang pernah ada. Kita selalu ingat hari lahir angkatan, bukan? 6 Ramadhan dan 6 September. Kita juga selalu mengingat hari wisuda : 2 Juni 2012. Saat di mana lagu-lagu Indonesia Raya dan Mars Insan Cendekia kita nyanyikan bersama -mungkin- untuk terakir kalinya. Saat lagu pengiring saat satu per satu maju kemudian terus membenak dan membuat kita kembali mengenang hari bersejarah ini. Saat di mana orang tua dan keluarga teman-teman kita yang berasal dari jauh datang untuk melihat wisuda putra-putri tercintanya. Setelah kedatangan pertamanya hanya untuk mengantarkan kali awal masuk pertama.

Saat di mana seluruh kisah perjuangan di IC selesai; untuk memulai perjuangan di tempat-tempat lain yang kita tidak melakukannya lagi bersama-sama.

Saat di mana besok kita tidak lagi mendengar lantunan adzan yang sama yang membuat kita harus bergegas ke masjid. Menghindari poin empat, mendengarkan ceramah ba'da shubuh yang harus kita akui bersama susah sekali menahan agar mata tetap terbuka sepanjang ceramah disampaikan, juga tidak berasmaul husna bersama serta tidak mendengarkan hadits riyadhus shalihin dibacakan saat kita sedang melipat mukena atau berjalan beriringan menuju ruang makan.

Saat di mana besok kamar kita bukan lagi di gedung H atau gedung F. Saat kita tidak lagi memiliki lorong asrama dan tidak ada teriakan-teriakan panik akibat countdown menjelang apel pagi sebelum pergi sekolah. Saat kita tidak lagi berlarian saling berebut untuk posisi-posisi bangku favorit dalam kelas. Saat tidak ada lagi kalian yang biasa kulihat sepanjang hari. Saat kita tidak pernah membutuhkan gadget untuk janjian bertemu, dan menikmati segala announcement dari mikrofon masjid maupun kantor wakamad yang pada waktu tertentu terdengar seru karena saling bersahutan. Saat kita kehilangan sisi favorit masing-masing di Masjid. Saat terkadang kita kehabisan lauk makan siang sementara sebentar lagi bel berbunyi tanda akan masuk. Saat kita  tidak lagi harus berkutat dengan aturan yang mengikat. Saat tidak ada lagi pertandingan yang kita sama-sama repot : antara bertanding dan membawakan minum. Saat tidak ada lagi wajah-wajah yang begitu akrab di mata kita. Saat tidak ada lagi bazaar asrama buat cari dana. Saat tidak ada lagi teman begadang yang begitu setia ketika musim tes blok dan ujian tiba, yang bahkan rela tidak tidur demi nasib ujian keesokan harinya. Saat tidak ada lagi papan nilai yang akan memajang nilai tes blok sampai ujian akhir semester yang kadang-kadang jadi mimpi buruk bersama. Saat aku akan berpisah dengan teman yang saling peduli : yang bahkan menyalahkan dirinya ketika ada teman lain yang terancam nilainya. Saat gerutuan terhadap kebijakan yang tiba-tiba diberlakukan akan berhenti karena selesainya masa pendidikan kita disini.

Saat tidak lagi ada kamu; kalian semua yang akan mudah kutemui.

Dear Gycen, apa kabar? Waktu berjalan dan tidak terasa ya. Sudah dua tahun selepas wisuda. Bahkan ada yang sudah dua tahun aku nggak ketemu. Kalian sekarang...apa kabar? Semoga selalu baik-baik saja, ya. Semoga kita semua selalu dalam lindunganNya. Semoga bahkan kita jauuuuh lebih baik dari diri kita semasa di IC dulu #nampardirisendiri. Aamiin ;) Aaah, rasanya jadi sulit berkata-kata. Gycentium dan Insan Cendekia, selalu saja membuat rindu :'). Waktu berjalan dan...sadarkah bahwa angkatan yang Sabtu kemarin diwisuda adalah angkatan yang terakhir kita kenal secara langsung selama di IC?

Dear Gycen, semoga kita dan kalian semua baik-baik saja. Tidak hanya kabar fisik, tapi juga kabar iman dan hati. Dan semoga ikatan doa rabithah seperti yang sering dibacakan saat kita kumpul di living room asrama, selalu melingkupi kita semua :') Aamiin.



Dear Gycen, tahukah kalian bahwa aku selalu saja malu bilang rindu pada kalian. Takut keliatan kayak susah move on *padahal nggak segitunya-_-. Tapi kalau lihat photoset Maryam, postingan Maryam, Hamzah ampe bikin dua, Gian, Iis, dan Akmal. Aku jadi sadar bahwa ada kalanya Gycentium dan Insan Cendekia adalah candu. Dan seperti yang Maryam bilang, Gycen adalah tempat kembali, sekalipun kita telah banyak mengenal orang di tempat kita masing-masing. Tiga tahun hidup bersama sungguh memberi impact perasaan yang tak terhingga, ya :') ?

Gycentium, aku...sungguh rindu .










sumber foto dari : blog anisah, tumblr Maryam, koleksi pribadi, file foto BT


untuk 2 Juni 2014,
tulisan sudah menjadi draft sejak tanggal 1 Juni.


---------------
tambahan, Faiz juga ngepos disini dan disini

4 komentar:

  1. wahh ini bagian awalnya kayak antitesa dari tulisan ane :v
    but very nice post, fit :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. antitesa apaan zah artinya ?
      makasih :)

      Hapus
    2. Antitesa semacam opini yang bertolak belakang gitu. Gak ngerti ya? Haha :p

      Hapus
    3. emang bertolak belakang sama postingan hamzah yg mana?

      Hapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS