Minggu, 05 Mei 2019

April-awal Mei

Aprilnya sudah berakhir. Meninggalkan segala ingatan dan kenangan. Sebagaimana Bandara Halim akhir Maret lalu. Tentang ke Jogja yang ketinggalan kereta, mengisi acara FLP, pulang yang ajaibnya dijemput abi di stasiun depok (he never do this for me before), kejutan dan pertanyaan, milad ke-8 iCare 2011 yang masih saja kuingat hari-harinya, pertambahan usia aku, zahra, pyan, ifa temen aliyah, ifa sepupu, gian, retas, annisa firdaus, irkham. 2 tahun sebelumnya berturut-turut sudah jadi anak rumah tapi saat ulang tahun 2017 aku lagi ke jogja urus pindahan ditengah magang badr, dan 2018 abi ummi ga ada di ruumah, Ummi baru sampai malam jam 8 mau jam 9 gitu dari Magelang. pertama kali ke Badr di hari Sabtu buat menenangkan diri dan berpikir, lalu ternyata ima dan abidah juga ke Badr. dan kami makan mi ayam pesona untuk pertama kalinya. emailan pertama kali sama Hannan yang deketan sama rapat tim solusi ngomongin home yawme di audit. deep sharing 27 april lalu, pesan panjang yang dikirim, lalu kemenangan GVS waktu aku deep sharing 27 april (sujud syukur sekantor), dan kemenangan startup turki 29 april, pernikahan 2 pasang anak Badr, yang sudah kuketahui tanggalnya sedari Desember tahun lalu, juga berlangsung april ini. Juga penolakan-penolakan naskahku :"), dan lahirnya bayik diary parenting ramadhannya Yawme Kids. Oh satu lagi, kata-kata sedih yang belum bisa aku lupakan hingga hari ini.

Bagaimanapun, Aprilnya berakhir.

Lalu Mei dimulai. Tadi aku tercenung mengingat Ahad ini. Ahad pertama Mei, dan seluruh kenangan. Perjalanan, mengalahkan diri sendiri, belajar, bersyukur, dan memaafkan kesalahan diri sendiri, serta ikut senang dan benar-benar sehepi itu dengan rasa bahagianya orang lain. Dan akhirnya di awal Mei ini aku pelan-pelan memahami bahwa teman monolog perlu benar-benar pergi. Bahkan aku juga ingat hal yang aku kenang di awal Mei semasa SD. Ah, juga bungkusan nasi kuning yang kubawa dan kutawarkan. Juga bagi-bagi takjil yang aku belum pernah ikutan.

Bagaimanapun, waktu berjalan.
Waktu bukanlah obat terbaik.
Obat terbaik adalah penerimaan. Keridhaan. Keikhlasan.
Apapun jalan hidupnya, Allah siapkan yang baik. Yang terbaik.
Ada yang mau Allah ajarkan. Apapun itu.

Sudah, segitu saja. Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar